MERTELU, GEDANGSARI — Pemerintah Kalurahan Mertelu, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, terus mendorong penguatan Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Maju Makmur Sejahtera agar mampu berkembang menjadi lembaga ekonomi kalurahan yang sehat, profesional, produktif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan pengelolaan BUMKal yang dilaksanakan di Aula Kalurahan Mertelu, Kamis Pahing, 17 September 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari penguatan kapasitas pengelola BUMKal sekaligus upaya membangun cara pandang baru dalam pengelolaan usaha kalurahan.
Kegiatan diikuti oleh Plt. Lurah dan Pamong Kalurahan Mertelu yang diwakili staf Kasi Uu-ulu Suyadi, Ketua Bamuskal Sunardi, Pengawas, dan Direktur BUMKal Maryanto beserta pengurus lainnya, kelompok wanita sebagai mitra BUMKal, PD-PLD Kapanewon Gedangsari (Sdr. Aswan Adityawan dan sdr. Agus Suranto), serta perwakilan TP-PKK dan LPMKal. Kegiatan diawali dengan doa bersama dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Selanjutnya, Plt. Lurah Mertelu menyampaikan sambutan sekaligus membuka kegiatan.
Reformasi pemberdayaan harus menyentuh ekonomi masyarakat
Dalam sambutannya, Plt. Lurah Mertelu yang disampaikan staf Kasi Ulu-Ulu menyampaikan bahwa penguatan BUMKal merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kalurahan dalam menjalankan agenda reformasi pemberdayaan masyarakat.
“Pelatihan ini bukan sekadar kegiatan untuk menambah pengetahuan pengurus BUMKal. Kita ingin membangun cara pandang bahwa BUMKal harus benar-benar menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi Kalurahan Mertelu.”
Menurutnya, keberadaan BUMKal harus dapat dihubungkan dengan potensi yang dimiliki masyarakat. Karena itu, pengelolaan BUMKal membutuhkan kerja bersama antara Pemerintah Kalurahan, pengelola, Bamuskal, kelompok masyarakat dan para mitra usaha. BUMKal Maju Makmur Sejahtera Mertelu sendiri memiliki sejumlah potensi usaha yang dapat dikembangkan. Dalam bahan pelatihan disebutkan antara lain usaha candak kulak, olahan pisang, usaha ternak, pangkalan LPG dan pemanfaatan aset/pengering.
Ketua Bamuskal: BUMKal harus memberi manfaat
Dalam forum tersebut, Ketua Bamuskal Mertelu Sunardi menekankan pentingnya membangun hubungan yang sehat antara BUMKal, Pemerintah Kalurahan dan masyarakat. BUMKal merupakan badan usaha milik kalurahan sehingga keberadaannya harus tetap berorientasi pada kepentingan dan manfaat bagi masyarakat.
“BUMKal jangan berjalan sendiri. Pemerintah Kalurahan memberikan arah dan dukungan, Bamuskal menjalankan fungsi pengawasan, sementara pengurus BUMKal harus fokus mengelola usaha secara profesional. Masyarakat juga harus menjadi bagian dari proses pengembangan usaha.”
Pandangan tersebut sejalan dengan materi pelatihan yang menempatkan BUMKal sebagai lembaga yang harus mampu mengorganisasi usaha masyarakat, menciptakan nilai tambah, memberikan manfaat bagi masyarakat, sekaligus berkontribusi terhadap pendapatan kalurahan.
Ki-Slamet: Jangan mulai dari nol, mulai dari apa yang sudah ada
Materi utama disampaikan oleh Ki-Slamet, S.Pd., S.H., TAPM Gunungkidul. Ia mengajak peserta untuk tidak memandang BUMKal Mertelu sebagai lembaga yang harus membangun semuanya dari awal.
Menurutnya, modal, pengurus, alat produksi, produk, mitra, akses pasar, potensi pisang dan pengalaman menjalankan beberapa usaha merupakan modal awal yang sudah dimiliki. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikonsolidasikan dan dikembangkan menjadi usaha yang memberikan hasil nyata. Materi secara khusus mengidentifikasi modal dan potensi yang telah dimiliki BUMKal Mertelu serta sejumlah aspek yang masih perlu diperkuat, seperti koordinasi, sistem keuangan, kualitas produk, pemasaran, model bisnis, pembagian tugas dan evaluasi usaha.
“Kita tidak mulai dari nol. BUMKal Mertelu sudah memiliki modal, pengurus, produk, alat, mitra dan pengalaman. Sekarang pertanyaannya bukan lagi apa yang kita punya, tetapi bagaimana semua yang sudah ada itu kita gerakkan menjadi usaha yang sehat dan menghasilkan manfaat.”
Ki-Slamet juga mengajak pengurus untuk berani melihat kondisi BUMKal berdasarkan data, termasuk kondisi keuangan. Dalam materi ditampilkan data tahun 2025 dengan pendapatan Rp12,987 juta, sementara biaya mencapai Rp16,2 juta sehingga terdapat hasil usaha negatif Rp3,213 juta. Angka tersebut diposisikan sebagai bahan evaluasi untuk mencari penyebab dan menentukan langkah perbaikan, bukan sekadar untuk menyalahkan pengurus.
“Laporan keuangan bukan sekadar laporan kepada pemerintah atau kewajiban administrasi. Laporan keuangan adalah alat bagi pengurus untuk mengambil keputusan. Dari angka-angka itulah kita bisa mengetahui usaha mana yang harus diteruskan, diperbaiki, direvitalisasi atau dihentikan.”
Fokus pada usaha yang sehat, bukan sekadar banyak usaha
Pelatihan kemudian diarahkan pada pembahasan portofolio usaha BUMKal Mertelu. Peserta diajak melihat kembali usaha candak kulak, olahan pisang, ternak, pangkalan LPG dan pengering dengan mempertimbangkan kondisi, potensi, risiko, pasar, biaya, serta peluang pengembangannya.
Dalam pengembangan usaha, peserta juga diajak menggunakan tujuh pertanyaan dasar: siapa pelanggan, apa kebutuhan pelanggan, produk apa yang ditawarkan, berapa biaya produksi, berapa harga jual, berapa margin/laba, serta bagaimana cara mendapatkan pelanggan.
Khusus pengembangan olahan pisang, pelatihan menempatkan kualitas produk, standar produksi, kemasan, harga, pemasaran dan kerja sama dengan BRIN serta mitra pemasaran sebagai bagian yang harus diperhatikan secara bersamaan.
Salah satu bagian penting dalam pelatihan adalah penguatan peran kelompok wanita sebagai mitra pemasaran BUMKal. Kelompok wanita tidak hanya ditempatkan sebagai penerima produk, tetapi sebagai bagian dari rantai usaha mulai dari menjual, mencari pelanggan, menerima pesanan hingga memberikan umpan balik kepada BUMKal.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat membuka pasar yang lebih luas melalui lingkungan rumah tangga, arisan, sekolah, kantor, kegiatan kalurahan, pameran maupun saluran pemasaran digital.
Direktur BUMKal: Pendampingan Sangat Dibutuhkan
Sementara itu, Direktur BUMKal Maju Makmur Sejahtera Mertelu, Maryanto menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Kalurahan, narasumber, serta para pendamping yang telah memberikan ruang belajar dan evaluasi bagi pengelola BUMKal.
Menurutnya, materi yang disampaikan memberikan perspektif baru bagi pengurus untuk melihat kembali kondisi usaha BUMKal secara lebih terbuka, terutama dalam membaca kondisi keuangan, mengevaluasi masing-masing unit usaha, memperbaiki tata kelola, serta mencari peluang pengembangan usaha.
“Kami mengucapkan terima kasih atas pelatihan dan pendampingan yang diberikan. Banyak hal yang selama ini mungkin belum kami lihat secara utuh menjadi lebih jelas setelah mengikuti pelatihan ini. Kami berharap pendampingan tidak berhenti sampai kegiatan hari ini, tetapi terus dilanjutkan agar BUMKal Mertelu dapat berkembang sebagaimana yang kami harapkan.”
Direktur BUMKal juga menyampaikan bahwa pihaknya akan segera menjadwalkan evaluasi pengelolaan usaha BUMKal sebagai tindak lanjut dari pelatihan. Evaluasi tersebut diharapkan dapat dilakukan bersama dengan pendamping sehingga setiap unit usaha dapat dilihat berdasarkan kondisi nyata, data keuangan, potensi, kendala, risiko, serta peluang pengembangannya.
“Kami sangat mengharapkan pendampingan dalam proses evaluasi usaha yang akan segera kami jadwalkan. Kami ingin melihat satu per satu usaha yang ada secara lebih objektif: mana yang perlu diperbaiki, mana yang perlu dikembangkan, dan mana yang perlu ditata kembali. Dengan pendampingan, kami berharap keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan data dan kondisi usaha.”
Permintaan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa pelatihan tidak dimaksudkan sebagai kegiatan yang berhenti pada penyampaian materi. Hasil pelatihan akan menjadi pijakan untuk melakukan evaluasi dan menyusun langkah perbaikan yang lebih konkret.
Dengan adanya komitmen pengelola dan dukungan pendampingan, proses penguatan BUMKal Maju Makmur Sejahtera Mertelu selanjutnya diarahkan pada pembenahan tata kelola, penguatan keuangan, peningkatan kualitas produk, perluasan pasar, penguatan kemitraan, dan evaluasi usaha secara rutin. Arah tersebut sejalan dengan materi pelatihan yang menempatkan evaluasi sebagai bagian penting untuk memastikan usaha BUMKal berjalan sehat, berkembang, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dari pelatihan menuju aksi 30–60–90 hari
Pada bagian akhir, peserta diajak menyusun langkah konkret melalui pendekatan rencana kerja 30–60–90 hari yang difasilitasi oleh PD dan PLD Gedangsari (Aswan Adityawan dan Agus Suranto. Tahap pertama diarahkan pada pembenahan struktur dan administrasi dasar, tahap kedua penguatan pengelolaan usaha dan pemasaran, sedangkan tahap ketiga diarahkan pada pengukuran kinerja, perbaikan usaha dan pengembangan jaringan kemitraan.
Pelatihan ditutup dengan pesan bahwa BUMKal Mertelu tidak harus memiliki banyak usaha, tetapi harus memiliki usaha yang sehat, terkelola dan berkelanjutan. Dengan demikian, pelatihan ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan peningkatan kapasitas. Pendampingan selanjutnya akan diarahkan untuk mengawal hasil pelatihan menjadi langkah nyata, melalui pembenahan tata kelola, penguatan keuangan, pengembangan produk dan pasar, penguatan kemitraan, serta evaluasi kinerja BUMKal secara berkala.
Dari BUMKal yang ada, menuju BUMKal yang berdaya—untuk Mertelu yang maju dan masyarakat yang semakin sejahtera.
Gunungkidul, 17 September 2026
0 Komentar