BEJIHARJO, KARANGMOJO – Pergantian kepemimpinan BUMDes Maju Mandiri Bejiharjo menjadi momentum untuk melakukan pembenahan pengelolaan usaha sekaligus menyusun langkah baru dalam mengoptimalkan potensi kalurahan. Hal tersebut menjadi pokok pembahasan dalam pertemuan pasca Musyawarah Kalurahan yang berlangsung di ruang kerja Lurah Bejiharjo, Rabu (16/9/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri Lurah Bejiharjo Sigit Wibowo Nugroho, Direktur BUMDes Maju Mandiri Bejiharjo yang baru Agung Susinantoro, Koordinator TPP Kapanewon Karangmojo Nining Wijayanti bersama Khoirudin, serta didampingi TAPM Gunungkidul Ki-Slamet, S.Pd., S.H.
Pertemuan merupakan tindak lanjut Musyawarah Kalurahan yang telah menetapkan Agung Susinantoro sebagai Direktur BUMDes Maju Mandiri periode 2026–2031, menggantikan Direktur periode sebelumnya. Koordinasi diarahkan untuk membahas kondisi pengelolaan BUMDes, evaluasi usaha, penataan kelembagaan dan sumber daya manusia, serta rencana pengembangan potensi kalurahan yang dapat dikelola BUMDes.
Kepengurusan Baru Menjadi Momentum Pembenahan
Lurah Bejiharjo Sigit Wibowo Nugroho menyampaikan harapan agar pergantian Direktur dan pengawas menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas pengelolaan BUMDes dan kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Kalurahan.
“Dengan terpilihnya Direktur dan pengawas yang baru, kami berharap pengelolaan BUMDes menjadi lebih baik dan mampu memberikan pendapatan asli kalurahan yang meningkat. Karena itu, evaluasi pengelolaan usaha dan optimalisasi potensi kalurahan perlu segera dilakukan.”
Harapan tersebut menjadi dasar bagi Direktur baru untuk melakukan evaluasi terhadap usaha yang telah berjalan sekaligus menyiapkan langkah pengembangan usaha baru.
Penataan SDM dan Pengukuran Kinerja
Direktur BUMDes Maju Mandiri Bejiharjo Agung Susinantoro menyampaikan sejumlah langkah yang akan dilakukan pada awal masa kepemimpinannya, terutama evaluasi usaha dan penataan sumber daya manusia.
“Langkah awal yang akan dilakukan adalah penataan karyawan, termasuk kemungkinan rolling posisi. Untuk mengukur kinerja semua karyawan, akan disusun Key Performance Indicator sehingga setiap orang memiliki ukuran kinerja yang jelas.”
Penataan SDM tersebut diharapkan dapat menempatkan personel sesuai kebutuhan organisasi dan kompetensinya. Evaluasi terhadap unit-unit usaha juga diperlukan untuk mengetahui kondisi riil usaha dan menentukan langkah perbaikan maupun pengembangannya.
Keterbukaan dan Tertib Administrasi Menjadi Fondasi
Koordinator TPP Kapanewon Karangmojo Nining Wijayanti memberikan penekanan pada aspek keterbukaan dan tertib administrasi, khususnya dalam pengelolaan keuangan BUMDes.
Menurut Nining, pembenahan usaha harus berjalan seiring dengan pembenahan administrasi agar setiap aktivitas usaha dapat dipertanggungjawabkan dan diketahui secara jelas oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
“Keterbukaan dan tertib administrasi harus menjadi bagian penting dalam pengelolaan BUMDes. Pengelolaan keuangan harus dicatat dan dilaporkan secara tertib, transparan, serta dapat dipertanggungjawabkan.”
Penekanan tersebut menjadi penting karena pengembangan usaha BUMDes tidak hanya diukur dari peningkatan pendapatan, tetapi juga dari kualitas tata kelola, administrasi keuangan, dan pelaporan.
Tata Kelola dan Komunikasi dengan Pelaku Usaha
Khoirudin menekankan pentingnya membangun komunikasi dan kejelasan peran antara Pemerintah Kalurahan, BUMDes, operator wisata, pelaku usaha, dan masyarakat. Menurutnya, pengembangan potensi kalurahan harus dilakukan melalui kesepahaman sehingga keberadaan BUMDes dapat menjadi wadah bersama dalam mengembangkan usaha tanpa mengabaikan pihak-pihak yang selama ini telah merintis dan mengelola potensi tersebut.
“Pengembangan usaha perlu dibangun melalui komunikasi dan kesepahaman. BUMDes harus mampu menjadi penggerak usaha sekaligus membangun hubungan yang baik dengan masyarakat dan pelaku usaha yang selama ini telah merintis dan menjalankan kegiatan.”
Hal tersebut terutama relevan dalam rencana pengembangan destinasi Rafting Kali Oya yang selama ini telah melibatkan pelaku dan pengelola lokal. Direktur BUMDes menyampaikan akan melakukan diskusi dan koordinasi dengan pengelola yang ada sebelum menentukan pola pengelolaan lebih lanjut.
Profesionalisme, Akuntabilitas dan Inovasi Usaha
Sementara itu, TAPM Gunungkidul Ki-Slamet, S.Pd., S.H. menekankan bahwa kepengurusan baru perlu membawa BUMDes menuju pengelolaan yang semakin profesional, akuntabel, inovatif, dan berorientasi pada pengembangan pasar.
“BUMDes perlu dikelola secara profesional dan akuntabel. Potensi yang dimiliki kalurahan harus diterjemahkan menjadi inovasi usaha yang memiliki pasar. Karena itu, inovasi usaha dan strategi pemasaran harus berjalan bersama dengan pelibatan masyarakat dalam proses pengelolaannya.”
Menurut Ki-Slamet, pengembangan usaha wisata tidak cukup hanya dengan mengambil alih atau mengelola destinasi. BUMDes perlu membangun ekosistem usaha yang melibatkan masyarakat sejak proses perencanaan, pengelolaan, pemasaran hingga memperoleh manfaat ekonomi.
Pendekatan kolaboratif tersebut dinilai penting untuk membangun kepercayaan, khususnya karena salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah masih adanya persoalan kepercayaan operator Goa Pindul terhadap pengurus BUMDes.
Evaluasi Program Ketahanan Pangan
Dalam koordinasi juga dibahas pengalaman BUMDes Maju Mandiri dalam mengelola program ketahanan pangan Dana Desa Tahun 2025 sebesar Rp449 juta. Dana tersebut digunakan untuk sewa lahan seluas tiga hektare yang dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian dan peternakan. Budidaya bawang merah mengalami kegagalan, sedangkan pengembangan kacang tanah menghasilkan produksi yang baik tetapi menghadapi persoalan harga jual.
Pada sektor peternakan, BUMDes mengelola sekitar 1.000 ekor ayam petelur dengan produksi optimal sekitar 85 persen. Hasil produksi dipasarkan kepada SPPG dan warung-warung di sekitar Bejiharjo. Pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi agar pengembangan usaha ke depan lebih memperhatikan kelayakan usaha, kepastian pasar, efisiensi biaya, risiko usaha, serta keberlanjutan.
Mengoptimalkan Goa Pindul dan Rafting Kali Oya
Potensi wisata menjadi salah satu agenda penting yang dibahas. Untuk Goa Pindul, Direktur BUMDes menyampaikan bahwa jumlah kunjungan masih sulit ditingkatkan karena dipengaruhi berbagai faktor. Jumlah operator aktif juga mengalami penurunan, dari 17 kelompok menjadi sembilan kelompok. Untuk menghadapi kondisi tersebut, BUMDes akan mendorong optimalisasi pemasaran dengan melibatkan masyarakat. Salah satu gagasan yang muncul adalah memberikan insentif kepada warga yang berhasil menghadirkan pengunjung dengan dukungan identifikasi nomor HP, media sosial, dan jaringan lainnya.
Direktur BUMDes menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan Goa Pindul membutuhkan kebersamaan.
“Kata kuncinya adalah membangun kebersamaan antara pengelola, operator Goa Pindul dan masyarakat.”
Sementara untuk Rafting Kali Oya, BUMDes akan membuka komunikasi dengan pengelola dan pelaku yang selama ini telah merintis destinasi tersebut. Prinsipnya, pengembangan usaha oleh BUMDes tetap memberikan ruang dan penghargaan kepada masyarakat yang telah menjadi bagian dari proses perintisan.
Menuju BUMDes yang Lebih Profesional dan Kolaboratif
Pertemuan menyepakati bahwa pembenahan BUMDes Maju Mandiri Bejiharjo perlu dilakukan secara bertahap dan terukur. Fokus awal diarahkan pada evaluasi seluruh unit usaha, penataan SDM, penyusunan KPI, pembenahan administrasi dan pelaporan keuangan, serta penyusunan rencana aksi pengembangan usaha.
Di sisi lain, pengembangan potensi wisata akan dilakukan melalui komunikasi dengan operator, pelaku usaha, dan masyarakat. Strategi pemasaran dan inovasi usaha akan menjadi bagian penting untuk meningkatkan daya tarik destinasi sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat. Koordinasi tersebut menjadi langkah awal bagi kepengurusan baru BUMDes Maju Mandiri untuk membangun tata kelola usaha yang lebih profesional, transparan dan akuntabel, sekaligus membuka ruang inovasi dan kolaborasi dalam mengelola potensi kalurahan.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan BUMDes ke depan tidak hanya dilihat dari besarnya pendapatan, tetapi juga dari kemampuan membangun usaha yang sehat, memberikan manfaat bagi masyarakat, meningkatkan kontribusi kepada Pendapatan Asli Kalurahan, serta menumbuhkan kepercayaan seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan potensi Bejiharjo. (ki-slamet)
Bejiharjo, 16 September 2026
0 Komentar