Rembuk Kalurahan Sehat: Terobosan Integrasi Perencanaan Kesehatan Kalurahan di Tengah Efisiensi Anggaran



P3MD Gunungkidul - Pembangunan kesehatan di tingkat desa atau kalurahan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Persoalan stunting, tuberkulosis (TBC), HIV/AIDS, malaria, penyakit tidak menular (hipertensi, jantung, deabitus melitus, dll), sanitasi, air bersih, ketahanan pangan, hingga kesehatan ibu dan anak merupakan isu yang saling berkaitan dan membutuhkan penanganan secara terpadu. Namun dalam praktiknya, berbagai forum perencanaan yang membahas persoalan tersebut masih berjalan sendiri-sendiri.

Di satu sisi terdapat Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) yang menjadi wadah identifikasi masalah kesehatan masyarakat. Di sisi lain terdapat Rembuk Stunting sebagai forum khusus percepatan penurunan stunting. Belum lagi pertemuan terkait Posyandu, sanitasi, ketahanan pangan, maupun forum koordinasi lintas sektor lainnya. Ironisnya, peserta yang hadir hampir sama, data yang digunakan beririsan, bahkan rekomendasi yang dihasilkan sering kali saling berkaitan, tetapi disusun dalam forum yang berbeda.

Situasi tersebut semakin terasa di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada kemampuan pemerintah kalurahan dalam membiayai berbagai kegiatan perencanaan dan koordinasi. Keterbatasan anggaran menuntut pemerintah kalurahan dan seluruh pemangku kepentingan untuk lebih kreatif mencari pola kerja yang efektif tanpa mengurangi kualitas proses perencanaan pembangunan.

Di sinilah diperlukan sebuah terobosan. Bukan sekadar mengurangi jumlah rapat, tetapi menghadirkan forum yang mampu mengintegrasikan berbagai agenda kesehatan dalam satu wadah yang lebih efisien, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi.

Salah satu gagasan yang layak dipertimbangkan adalah Rembuk Kalurahan Sehat.

Berawal dari Sebuah Diskusi tentang Pencegahan ATM

Ide ini bermula dari sebuah forum yang justru membahas isu kesehatan lintas sektor. Pada Pertemuan Penguatan Forum Kemitraan Pencegahan dan Pengendalian AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM) yang diselenggarakan oleh Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul pada Rabu, (10/6/26) di Griya Hinggil, Aris Nurkholis salah satu Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Gunungkidul yang menjadi narasumber menyampaikan pentingnya sinergi antarprogram kesehatan di tingkat kalurahan.

Dalam diskusi tersebut muncul sebuah pertanyaan sederhana, tetapi sangat relevan.
"Mengapa Rembuk Stunting tidak dioptimalkan menjadi forum yang tidak hanya membahas persoalan stunting, namun juga untuk membahas isu-isu dan permasalahan kesehatan pada umumnya termasuk isu tentang pencegahan dan pengendalian TBC, HIV/AIDS, dan Malaria?"
Pertanyaan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah gagasan untuk mengoptimalkan forum rembuk stunting atau mengintegrasikan berbagai forum kesehatan yang selama ini juga sudah berjalan seperti musyawarah masyarakat desa (MMD) menjadi satu proses musyawarah yang lebih efektif dan efisien.

Namun setelah dicermati lebih jauh, integrasi tersebut sesungguhnya dapat diperluas. Bukan hanya menyatukan MMD dan Rembuk Stunting, tetapi menghadirkan sebuah forum yang membahas seluruh persoalan kesehatan masyarakat di tingkat kalurahan secara terpadu. Dari sinilah lahir konsep Rembuk Kalurahan Sehat.

Dari Forum Sektoral Menuju Forum Kolaboratif

Rembuk Kalurahan Sehat bukan sekadar perubahan nama dari forum yang sudah ada. Konsep ini merupakan transformasi cara pandang terhadap pembangunan kesehatan di tingkat kalurahan.

Stunting tetap menjadi prioritas nasional, tetapi stunting sesungguhnya hanyalah salah satu indikator dari kondisi kesehatan masyarakat. Tingginya angka stunting sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti kemiskinan, sanitasi yang buruk, akses air bersih yang terbatas, rendahnya ketahanan pangan keluarga, pola asuh, hingga keterbatasan pelayanan kesehatan dasar.

Karena itu, pembangunan kesehatan tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat dan pemerintah dalam satu forum yang sama.

Melalui Rembuk Kalurahan Sehat, seluruh persoalan kesehatan dibahas secara terpadu, mulai dari stunting, kesehatan ibu dan anak, TBC, HIV/AIDS, malaria, penyakit tidak menular, imunisasi, sanitasi lingkungan, pengelolaan sampah, kesehatan remaja, kesehatan lansia, hingga ketahanan pangan keluarga.

Dengan pendekatan tersebut, forum kesehatan tidak lagi bersifat sektoral, melainkan menjadi bagian dari perencanaan pembangunan kalurahan secara utuh.

Berbasis Data, Bukan Sekadar Seremonial

Salah satu kelemahan forum perencanaan selama ini adalah pembahasan yang sering kali normatif dan kurang didukung oleh data yang komprehensif.

Dalam konsep Rembuk Kalurahan Sehat, seluruh proses musyawarah dimulai dengan penyajian data kesehatan dan sosial masyarakat yang berasal dari Puskesmas, Posyandu, Kader Pembangunan Manusia (KPM), PKK, pemerintah kalurahan, serta hasil pendataan keluarga.

Data tersebut meliputi jumlah balita stunting, wasting dan underweight, ibu hamil berisiko tinggi, anemia remaja, cakupan imunisasi, kepemilikan jamban sehat, akses air minum layak, penyakit menular seperti TBC dan DBD, penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes, kondisi kemiskinan, hingga keluarga berisiko stunting.

Berangkat dari data tersebut, seluruh peserta forum bersama-sama mengidentifikasi persoalan, menentukan prioritas penanganan, sekaligus menyusun rencana aksi yang realistis sesuai kewenangan pemerintah kalurahan maupun lintas sektor.

Satu Forum, Banyak Solusi

Keunggulan utama Rembuk Kalurahan Sehat adalah kemampuannya mengintegrasikan berbagai program dalam satu forum.

Pemerintah kalurahan tidak perlu lagi menyelenggarakan MMD, Rembuk Stunting, maupun berbagai forum kesehatan lain secara terpisah dengan peserta yang hampir sama. Seluruh proses dapat dilaksanakan dalam satu forum yang melibatkan pemerintah kalurahan, Bamuskal, Puskesmas, PKK, Posyandu, KPM, PLKB, Pendamping Desa, sekolah, tokoh masyarakat, tokoh agama, Karang Taruna, BUM Desa, hingga organisasi masyarakat lainnya.

Forum tersebut menghasilkan satu dokumen rencana aksi bersama yang dapat langsung diintegrasikan ke dalam RKPKalurahan, APBKalurahan, maupun program lintas sektor lainnya.

Dengan demikian, hasil musyawarah tidak berhenti sebagai berita acara atau rekomendasi semata, tetapi benar-benar menjadi dasar pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Menghubungkan Kesehatan dengan Pembangunan Kalurahan

Rembuk Kalurahan Sehat juga membawa cara pandang baru bahwa pembangunan kesehatan bukan hanya urusan sektor kesehatan.

Ketika forum menemukan bahwa tingginya angka stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses air bersih, maka solusi yang disusun dapat berupa pembangunan sarana air bersih melalui Dana Desa. Ketika persoalan utama berasal dari ketahanan pangan keluarga, maka intervensinya dapat berupa kebun gizi, budidaya ikan, peternakan keluarga, atau penguatan ekonomi masyarakat melalui BUM Desa.

Artinya, pembangunan kesehatan dapat diintegrasikan dengan pembangunan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, ketahanan pangan, pendidikan, hingga perlindungan sosial.

Inilah esensi pembangunan kalurahan yang sesungguhnya, yaitu pembangunan yang terintegrasi dan berpusat pada kebutuhan masyarakat.

Menuju Kalurahan Sehat, Mandiri, dan Berkelanjutan

Di tengah keterbatasan anggaran, tantangan pembangunan kesehatan justru menuntut lahirnya inovasi tata kelola yang lebih efektif dan efisien. Rembuk Kalurahan Sehat menawarkan pendekatan tersebut melalui integrasi forum, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan data sebagai dasar pengambilan keputusan.

Konsep ini bukan hanya menyederhanakan berbagai forum yang selama ini berjalan sendiri-sendiri, tetapi juga memperkuat sinergi seluruh komponen masyarakat dalam mewujudkan kalurahan yang sehat, mandiri, dan sejahtera.

Sudah saatnya pembangunan kesehatan di tingkat kalurahan tidak lagi berjalan dalam sekat-sekat program, melainkan bergerak dalam satu forum bersama yang menyatukan data, gagasan, sumber daya, dan aksi nyata. Rembuk Kalurahan Sehat dapat menjadi model baru perencanaan kesehatan kalurahan: satu forum, satu data, satu rencana aksi, untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan pembangunan kalurahan yang lebih berkelanjutan. (ANK)

Posting Komentar

0 Komentar