Dari Dana Desa Menuju Lumbung Ekonomi Baru: Kisah Sukses Kalurahan Terbah Membangun Peternakan Broiler Modern Berkapasitas 12.000 Ekor


Dari Dana Desa Menuju Lumbung Ekonomi Baru: Kisah Sukses Kalurahan Terbah Membangun Peternakan Broiler Modern Berkapasitas 12.000 Ekor

(Teguh Santosa – TAPM Gunungkidul)

Gunungkidul – Dana Desa tidak hanya mampu membangun jalan, talud, atau infrastruktur dasar. Di Kalurahan Terbah, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Dana Desa justru menjadi modal lahirnya sebuah unit usaha produktif yang diproyeksikan menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PAD) sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Melalui Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Giri Puspita, Pemerintah Kalurahan Terbah berhasil mengembangkan peternakan ayam pedaging (broiler) modern berkapasitas 12.000 ekor dengan teknologi Closed House. Kehadiran usaha tersebut menjadi bukti bahwa Dana Desa dapat menjadi investasi ekonomi jangka panjang apabila direncanakan secara matang, dikelola secara profesional, dan didukung pendampingan yang berkelanjutan.

Berawal dari Komitmen Membangun Ketahanan Pangan

Program ini berawal dari komitmen Pemerintah Kalurahan Terbah dalam mengoptimalkan kebijakan pengalokasian Dana Desa untuk mendukung ketahanan pangan. Pada Tahun Anggaran 2025, pemerintah kalurahan mengalokasikan 20 persen Dana Desa sebesar Rp225 juta sebagai penyertaan modal kepada BUMKal Giri Puspita.

Komitmen tersebut berlanjut pada Tahun Anggaran 2026 dengan tambahan penyertaan modal sebesar Rp165 juta. Untuk memperkuat kapasitas usaha, BUMKal juga berhasil menggandeng mitra swasta melalui kerja sama investasi senilai Rp120 juta, sehingga total modal usaha mencapai Rp510 juta.

Dana tersebut dimanfaatkan untuk membangun kandang modern berukuran 7,5 meter × 65 meter dengan dua lantai, gudang penyimpanan, instalasi kelistrikan, peralatan kandang, sistem ventilasi otomatis, serta berbagai sarana penunjang operasional.

Mengusung Kemitraan yang Mengurangi Risiko

BUMKal Giri Puspita memilih pola usaha kemitraan dengan PT Ganesa sebagai perusahaan inti. Dalam pola ini, PT Ganesa menyediakan DOC (Day Old Chick), pakan, vitamin, obat-obatan, vaksin, serta pendampingan Technical Service (TS) selama masa pemeliharaan.



Sebagai plasma, BUMKal fokus pada pengelolaan kandang sesuai standar operasional yang telah ditetapkan. Setelah masa pemeliharaan selesai, hasil panen dibeli oleh PT Ganesa sehingga pemasaran lebih terjamin dan risiko usaha dapat ditekan.

Model kemitraan tersebut memberi kepastian usaha sekaligus meningkatkan peluang keberhasilan karena BUMKal memperoleh dukungan teknis sejak awal pemeliharaan hingga panen.

Teknologi Modern Tingkatkan Produktivitas

Peternakan ini menggunakan sistem Closed House, teknologi yang memungkinkan pengaturan suhu, kelembapan, sirkulasi udara, pencahayaan, hingga pemberian pakan dilakukan secara otomatis.

Dengan sistem tersebut, tingkat stres ternak dapat ditekan, pertumbuhan ayam menjadi lebih seragam, efisiensi penggunaan pakan meningkat, dan produktivitas lebih optimal. Menariknya, kandang berkapasitas 12.000 ekor tersebut hanya memerlukan dua orang tenaga kandang yang berasal dari masyarakat sekitar sehingga membuka kesempatan kerja sekaligus meningkatkan keterampilan warga dalam mengelola peternakan modern.

Kandang mulai diisi DOC pada 18 Juli 2026, sedangkan panen perdana diperkirakan berlangsung saat ayam berumur 32–35 hari.

Pendampingan Menjadi Titik Penentu Keberhasilan

Keberhasilan pembangunan peternakan ini tidak diperoleh tanpa tantangan. Penurunan besaran Dana Desa pada Tahun Anggaran 2026 sempat menyebabkan pembangunan kandang berjalan lebih lambat dari rencana.

Situasi tersebut berpotensi menghambat operasional bahkan menimbulkan risiko aset yang telah dibangun tidak dapat segera dimanfaatkan.

Pada fase inilah Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kapanewon Patuk bersama Tim Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Gunungkidul memainkan peran penting.

Pendampingan dilakukan secara intensif melalui koordinasi dengan pemerintah kalurahan dan BUMKal, memberikan masukan terhadap pengembangan usaha, memfasilitasi komunikasi dengan berbagai pihak, membantu mencari alternatif penyelesaian kendala, serta memastikan program ketahanan pangan tetap berjalan sesuai tujuan.

Peran pendamping bukan hanya memastikan aspek administrasi terpenuhi, tetapi juga menjadi fasilitator yang mampu mempertemukan gagasan, membangun optimisme, dan menjaga keberlanjutan investasi desa. Pendampingan tersebut akhirnya mampu mendorong penyelesaian pembangunan kandang hingga peternakan dapat mulai beroperasi sesuai rencana.

Potensi Ekonomi yang Menjanjikan

Lurah Terbah, entity[“people”,“Giyanto”,“Lurah Kalurahan Terbah”], menilai usaha peternakan broiler memiliki prospek yang sangat baik. Menurutnya, masyarakat Terbah telah lama dikenal memiliki pengalaman dalam usaha ayam pedaging sehingga pengembangan usaha melalui BUMKal memiliki peluang besar untuk berkembang.

Ia berharap keberadaan peternakan modern ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PAD), membuka lapangan kerja, meningkatkan perputaran ekonomi lokal, serta menjadi contoh pengelolaan Dana Desa yang produktif dan berkelanjutan.

Menjadi Contoh Praktik Baik bagi Desa Lain

Keberhasilan Kalurahan Terbah menunjukkan bahwa Dana Desa dapat menjadi instrumen pembangunan ekonomi apabila dikelola secara tepat. Kolaborasi antara pemerintah kalurahan, BUMKal, dunia usaha, masyarakat, serta pendamping desa menjadi fondasi utama lahirnya unit usaha yang berorientasi pada keberlanjutan.

Model peternakan broiler modern yang dikembangkan BUMKal Giri Puspita tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan desa, tetapi juga menjadi praktik baik (best practice) yang dapat direplikasi oleh kalurahan lain dalam mengembangkan program ketahanan pangan berbasis potensi lokal.

Dengan pendampingan yang tepat, perencanaan yang matang, serta kemitraan yang saling menguntungkan, Dana Desa mampu bertransformasi dari sekadar sumber pembiayaan pembangunan menjadi penggerak ekonomi desa yang menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (TGS)

Posting Komentar

0 Komentar