P3MD Gunungkidul - Ada sebuah tulisan berjudul “Terlalu Fokus pada Jumlah Upload, Melupakan Pencapaian Nyata” yang muncul pada salah satu weblog Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kabupaten Gunungkidul. Tulisan tersebut memunculkan pertanyaan menarik: benarkah dorongan kepada TPP untuk melakukan publikasi kegiatan pendampingan di weblog yang selama ini dilakukan hanya sebatas mengejar jumlah unggahan dan mengabaikan pencapaian nyata di lapangan?
Pertanyaan tersebut layak untuk didiskusikan secara terbuka, objektif, proporsional dan berimbang. Sebab, dalam dunia pendampingan desa, publikasi dan pencapaian nyata sejatinya bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan dan saling melengkapi.
Jika dicermati lebih dalam, pernyataan bahwa pendamping yang aktif menulis dan mengunggah kegiatan di weblog hanya mengejar kuantitas publikasi berpotensi menimbulkan kesan yang kurang adil. Di berbagai wilayah, banyak TPP yang setiap hari melakukan fasilitasi, pendampingan, koordinasi, hingga penyelesaian berbagai persoalan desa yang tidak sederhana.
Pencapaian nyata memang merupakan substansi utama dari kerja-kerja pendampingan. Berhasil memfasilitasi penyusunan perencanaan desa, menguatkan kelembagaan BUM Desa, meningkatkan kapasitas kader, membantu penyelesaian persoalan stunting, hingga mendorong partisipasi masyarakat merupakan contoh-contoh hasil nyata yang menjadi tujuan utama pendampingan.
Sementara itu di sela-sela aktivitas tersebut, mereka para TPP masih meluangkan waktu untuk mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan mereka sebagai bentuk akuntabilitas sekaligus berbagi pengalaman kepada sesama pendamping. Publikasi menjadi cara untuk merekam proses, membagikan pengalaman, serta menyampaikan praktik-praktik baik yang dapat dipelajari oleh pihak lain.
Karena itu, menempatkan publikasi dan pencapaian nyata sebagai dua hal yang saling meniadakan sesungguhnya merupakan cara pandang yang kurang tepat.
Tentu saja, publikasi tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan pendampingan. Banyak pendamping yang mungkin tidak aktif menulis di weblog, tetapi memiliki kontribusi dan capaian nyata yang dirasakan masyarakat desa. Fakta ini harus diakui dan dihormati.
Namun di sisi lain, tidak tepat pula jika pendamping yang aktif mempublikasikan kegiatannya kemudian dianggap hanya berorientasi pada jumlah unggahan semata. Generalisasi semacam ini berpotensi mengabaikan kerja keras mereka yang telah berupaya menjalankan tugas pendampingan sekaligus mendokumentasikan proses dan hasil kerjanya.
Sejak awal, publikasi kegiatan pendampingan melalui weblog pada dasarnya bukanlah sebuah pemaksaan. Semangat yang dibangun adalah mendorong kesadaran akan pentingnya dokumentasi dan diseminasi praktik-praktik baik yang terjadi di lapangan. Publikasi menjadi salah satu sarana untuk menunjukkan akuntabilitas kinerja pendamping yang pembiayaannya berasal dari negara dan pada akhirnya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Lebih dari itu, weblog juga berfungsi sebagai ruang berbagi pengetahuan (knowledge sharing). Banyak pengalaman berharga, inovasi desa, solusi atas berbagai permasalahan, hingga praktik-praktik pendampingan yang berhasil dapat dipelajari oleh pendamping lain melalui tulisan yang dipublikasikan. Dari sinilah muncul proses pembelajaran kolektif yang dapat memperkuat kualitas pendampingan secara keseluruhan.
Selain itu, publikasi membantu membangun memori kelembagaan. Pengalaman-pengalaman yang terdokumentasi dengan baik akan menjadi referensi berharga bagi generasi pendamping berikutnya.
Tanpa dokumentasi yang memadai, banyak praktik baik yang berpotensi hilang begitu saja dan tidak pernah menjadi pembelajaran bersama.
Karena itu, perdebatan mengenai publikasi dan pencapaian nyata seharusnya tidak ditempatkan dalam kerangka saling menegasikan. Pendamping yang aktif menulis belum tentu mengabaikan hasil kerja lapangan. Sebaliknya, pendamping yang jarang menulis juga tidak otomatis tidak bekerja. Keduanya memiliki pilihan dan pendekatan masing-masing.
Yang perlu dibangun adalah saling menghargai. Mereka yang rajin mendokumentasikan dan membagikan praktik baik melalui weblog patut diapresiasi karena telah menyediakan sumber pembelajaran bagi banyak pihak. Demikian pula mereka yang lebih memilih fokus pada kerja-kerja lapangan tetap layak dihormati selama mampu menunjukkan dampak nyata bagi desa dampingannya.
Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah mempertentangkan antara publikasi dan pencapaian, melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan beriringan. Pencapaian nyata di lapangan adalah substansi, sementara publikasi merupakan sarana untuk menyebarluaskan pembelajaran dan memastikan akuntabilitas. Ketika keduanya hadir secara seimbang, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pendamping, tetapi juga oleh desa dan masyarakat yang didampingi.
Karena itu, apresiasi layak diberikan kepada seluruh TPP yang telah bekerja dengan sungguh-sungguh di lapangan, baik yang aktif mempublikasikan kegiatannya maupun yang memilih fokus pada proses pendampingan. Namun yang tidak kalah penting, ruang diskusi di antara sesama pendamping hendaknya tetap dijaga dengan semangat saling menghormati, menghindari generalisasi, dan tidak mudah menghakimi pilihan kerja pihak lain. Sebab tujuan akhirnya tetap sama: mewujudkan desa yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera. (ANK)

0 Komentar