Sempat Dicibir dan Diragukan, BUMKal Giri Puspito Terbah Akhirnya Sukses Panen 12 Ribu Ayam Broiler



P3MD Gunungkidul - Keraguan pernah mengiringi langkah Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Giri Puspito, Kalurahan Terbah, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, ketika memutuskan masuk ke bisnis ayam broiler. Skala usahanya dinilai terlalu besar, sementara kemampuan modal kalurahan terbatas.

Kini keraguan itu mendapat jawaban.

Pada Jumat, 21 Agustus 2026, sebanyak 12 ribu ekor ayam broiler dipanen dalam siklus perdana usaha BUMKal Giri Puspito. Panen raya tersebut menjadi tonggak penting bagi Terbah dalam menerjemahkan program ketahanan pangan menjadi usaha produktif yang diharapkan menghasilkan pendapatan bagi kalurahan.

Sejumlah bakul, Panewu Patuk, Lurah Terbah, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Gunungkidul, perangkat kalurahan, serta wartawan menyaksikan langsung proses panen tersebut.

Bagi sebagian orang, keputusan membangun kandang dengan kapasitas 12 ribu ekor ayam bukan keputusan sederhana. Investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp500 juta. Sementara itu, pada 2025, kemampuan Kalurahan Terbah menyediakan penyertaan modal dari program ketahanan pangan sebesar 20 persen hanya sekitar Rp205 juta.

Di atas kertas, angka tersebut jelas belum cukup.

Rencana pembangunan kandang kemudian disusun secara bertahap. Sebagian investasi dilakukan pada 2025 dan sisanya direncanakan melalui penyertaan modal pada 2026.

Namun persoalan kembali muncul ketika kebijakan pemerintah pusat mengenai Dana Desa berubah pada 2026. Ruang fiskal kalurahan menyempit. Dana Desa yang dapat dikelola langsung oleh Kalurahan Terbah hanya sekitar Rp300 juta.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah kalurahan memilih tidak mundur.

Pemerintah Kalurahan Terbah tetap menyisihkan sekitar Rp165 juta pada 2026 untuk menyelesaikan pembangunan kandang. Dana itu masih belum cukup. Kekurangan modal kemudian dicari melalui partisipasi masyarakat yang bersedia berinvestasi dalam usaha peternakan tersebut.

Jalan itu akhirnya terbuka.

Dukungan pemerintah kalurahan, BUMKal, Badan Permusyawaratan Kalurahan (Bamuskal), dan masyarakat membuat pembangunan kandang berkapasitas 12 ribu ekor ayam dapat diselesaikan.

Lurah Terbah, Giyanto, mengatakan sejak awal keputusan tersebut memang mengandung risiko. Tetapi pemerintah kalurahan memiliki alasan kuat untuk tetap menjalankannya.

Menurut dia, Terbah bukan daerah yang asing dengan bisnis ayam pedaging. Aktivitas peternakan ayam telah menjadi bagian dari ekonomi masyarakat setempat.

“Semula memang banyak yang meragukan karena modalnya besar. Tetapi tekad kami menyala untuk memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan kalurahan. Pengalaman masyarakat sudah tersedia, sehingga kami bergerak dengan keyakinan usaha ini bisa berhasil,” kata Giyanto.

Ia menyebut, di wilayah Terbah terdapat sekitar 90 ribu ekor ayam yang dikelola para pelaku usaha. Sebagian pelaku usaha tersebut bahkan berasal dari kalangan perangkat kalurahan.

Kondisi itu menjadi modal pengetahuan bagi BUMKal Giri Puspito untuk mengadopsi pengalaman bisnis ayam pedaging ke dalam skema usaha kalurahan.

“Kami tidak mulai dari nol. Pengalaman bisnis ayam pedaging sudah ada di masyarakat. Ilmu dan pengalaman itu kami adopsi untuk dijalankan oleh BUMKal,” ujarnya.

Panen 12 ribu ekor ayam tersebut sekaligus menjadi ujian pertama atas model bisnis yang dibangun.

BUMKal Giri Puspito menargetkan keuntungan bersih sekitar Rp15 juta setiap periode panen setelah dikurangi biaya operasional. Keuntungan tersebut nantinya diharapkan menjadi salah satu sumber kontribusi terhadap pendapatan asli kalurahan.

Direktur BUMKal Giri Puspito, Dian, mengatakan penyertaan modal pemerintah kalurahan memang diarahkan untuk mendukung dua kepentingan sekaligus: menjalankan usaha dan memperkuat ketahanan pangan.

“Pemerintah kalurahan memberikan modal untuk usaha dan ketahanan pangan melalui bisnis ayam broiler. Setelah dikurangi biaya operasional BUMKal, kami menargetkan keuntungan paling sedikit Rp15 juta setiap panen,” ujar Dian.

Bagi Dian, panen perdana bukan akhir dari perjalanan. Justru setelah panen pertama, BUMKal harus membuktikan apakah bisnis tersebut mampu berulang dan berkembang.

Rencana pengembangan pun mulai disiapkan. BUMKal Giri Puspito mempertimbangkan pengembangan usaha peternakan pada sektor yang masih satu ekosistem, salah satunya ayam petelur.

“Ke depan akan ada pengembangan usaha di bidang yang sama, masih perayaman, tetapi kemungkinan ke ayam petelur,” kata Dian.

Panewu Patuk mengapresiasi keberanian Terbah mengembangkan usaha dengan skala besar tersebut. Ia menilai panen perdana 12 ribu ayam merupakan sebuah lompatan dalam upaya membangun sumber pendapatan kalurahan yang dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Apresiasi juga disampaikan Aris Nurkholis, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Gunungkidul. Menurut dia, keberhasilan panen tersebut memberikan pesan penting bagi kalurahan lain: keterbatasan anggaran tidak selalu berarti keterbatasan peluang.

“Ini kabar baik dan memotivasi kalurahan lain. Awalnya memang sempat diragukan karena investasi yang dibutuhkan besar. Tetapi ketika pemerintah kalurahan, BUMKal, Bamuskal, dan masyarakat memiliki komitmen bersama, persoalan modal bisa dicarikan jalan keluarnya,” kata Aris.

Ia juga mengingatkan bahwa program ketahanan pangan tidak cukup berhenti pada penyerapan anggaran. Usaha yang dibangun harus mampu menghasilkan nilai ekonomi, dikelola secara profesional, dan memiliki prospek keberlanjutan.

Di Terbah, kisah itu bermula dari keraguan.

Ada yang melihat investasi Rp500 juta sebagai beban. Ada pula yang mempertanyakan kemampuan kalurahan membangun kandang berkapasitas 12 ribu ayam ketika modal awal hanya Rp205 juta.

Tetapi pemerintah kalurahan memilih bertahan pada rencana. Ketika Dana Desa menyusut, mereka mencari jalan lain. Ketika modal tidak mencukupi, masyarakat dilibatkan.

Kini, 12 ribu ayam telah dipanen.

Panen itu memang belum membuktikan bahwa seluruh perjalanan bisnis BUMKal akan selalu mulus. Namun setidaknya Terbah telah melewati satu fase penting: membuktikan bahwa keraguan dapat dijawab bukan dengan perdebatan, melainkan dengan hasil.

Tantangan berikutnya jauh lebih berat—menjaga agar 12 ribu ayam itu bukan sekadar panen perdana, tetapi menjadi awal dari bisnis yang mampu berputar, menghasilkan keuntungan, dan pada akhirnya memberi manfaat nyata bagi masyarakat serta pendapatan kalurahan.

Posting Komentar

0 Komentar