P3MD Gunungkidul - Suara riuh kandang dan aktivitas para bakul mewarnai panen raya ayam broiler di Karang Terbah, Kalurahan Terbah, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Jumat, 21 Agustus 2026. Bagi Badan Usaha Kalurahan (BUMKal) Giri Puspito, hari itu bukan sekadar memanen ayam, melainkan menjadi penanda dimulainya sebuah usaha pangan berskala besar yang diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus menambah pendapatan asli kalurahan.
Sebanyak 12 ribu ekor ayam broiler dipanen dalam siklus perdana usaha BUMKal Giri Puspito. Panen tersebut disaksikan langsung oleh para bakul, Panewu Patuk, Lurah Terbah, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Gunungkidul, perangkat kalurahan, serta sejumlah wartawan yang datang melihat proses panen dari dekat.
Lurah Terbah, Giyanto, mengatakan keputusan membangun usaha ayam broiler sempat menuai keraguan. Modal yang dibutuhkan cukup besar, sementara usaha tersebut menjadi langkah baru bagi BUMKal.
Namun, keraguan itu tidak membuat pemerintah kalurahan mengurungkan langkah. Menurut Giyanto, Terbah memiliki modal sosial berupa pengalaman masyarakat dalam menjalankan usaha ayam pedaging.
“Semula memang sempat diragukan karena membutuhkan modal besar. Tetapi tekad kami menyala untuk memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan kalurahan. Pengalaman masyarakat sudah tersedia, sehingga kami bergerak dengan keyakinan bahwa usaha ini bisa berhasil,” ujar Giyanto kepada awak media.
Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Giyanto menyebut usaha ayam pedaging telah menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat Terbah. Diperkirakan terdapat sekitar 90 ribu ekor ayam yang diternakkan oleh para pelaku usaha di wilayah tersebut.
Bahkan, sebagian pelaku usaha peternakan ayam merupakan perangkat kalurahan. Pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki kemudian menjadi modal pengetahuan bagi BUMKal Giri Puspito untuk masuk ke bisnis ayam broiler.
“Di wilayah kami sekitar 90 ribu ayam ada di Terbah. Para pelaku usaha sebagian besar juga dari perangkat kalurahan. Kami mengadopsi ilmu dan pengalaman bisnis ayam pedaging itu untuk dijalankan BUMKal,” katanya.
Untuk memulai usaha tersebut, BUMKal Giri Puspito menggelontorkan investasi sekitar Rp500 juta. Anggaran itu digunakan untuk pembangunan kandang, pembelian bibit, pakan, obat-obatan, tenaga kerja pembangunan kandang sejak 2025, serta berbagai kebutuhan teknis lainnya.
Kini, investasi tersebut mulai diuji melalui panen perdana 12 ribu ayam broiler. Giyanto menargetkan setiap siklus pemeliharaan mampu memberikan keuntungan bersih sekitar Rp15 juta setelah seluruh biaya operasional diperhitungkan.
“Target kami setiap panen mendapatkan Rp15 juta bersih sebagai kontribusi pendapatan asli kalurahan dari ketahanan pangan melalui bisnis dan usaha ayam broiler,” ujarnya.
Panewu Patuk mengapresiasi langkah BUMKal Giri Puspito yang dinilainya berani mengambil lompatan dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.
Ia menyebut panen perdana tersebut sebagai momentum penting karena usaha BUMKal tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diarahkan menjadi sumber pendapatan yang dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Panen perdana ini sangat spektakuler. Ini menjadi lompatan untuk menghasilkan pendapatan pada setiap panen dan dilakukan secara berkesinambungan,” kata Panewu Patuk.
Apresiasi juga datang dari Aris Nurkholis, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Gunungkidul. Menurut dia, usaha ayam broiler Terbah menjadi contoh bahwa program ketahanan pangan dapat diterjemahkan ke dalam aktivitas ekonomi yang produktif.
Aris mengatakan kebijakan pemerintah pusat mengarahkan desa untuk mengalokasikan sedikitnya 20 persen Dana Desa untuk program ketahanan pangan. Karena itu, menurut dia, usaha produktif seperti yang dilakukan BUMKal Giri Puspito dapat menjadi salah satu model pemanfaatan anggaran tersebut apabila dikelola secara profesional dan akuntabel.
“Ini kabar baik dan sekaligus memotivasi kalurahan lain. Di tengah berbagai kesulitan dan keraguan yang muncul pada awalnya, ternyata ketika potensi lokal, pengalaman masyarakat dan keberanian pengelola dipadukan, bisa melahirkan usaha seperti ini,” kata Aris.
Direktur BUMKal Giri Puspito Terbah, Dian, menjelaskan modal usaha berasal dari pemerintah kalurahan untuk mendukung pengembangan usaha sekaligus memperkuat program ketahanan pangan. Ayam broiler dipilih karena ekosistem usaha tersebut telah terbentuk di Terbah.
Menurut Dian, setelah pendapatan usaha dikurangi biaya operasional, BUMKal menargetkan kontribusi keuntungan sedikitnya Rp15 juta setiap kali panen.
“Pemerintah kalurahan memberikan modal untuk usaha dan ketahanan pangan melalui bisnis ayam broiler. Setelah dikurangi biaya operasional BUMKal, kami menargetkan keuntungan paling sedikit Rp15 juta setiap panen,” ujar Dian.
Panen perdana itu sekaligus membuka babak baru bagi Giri Puspito. BUMKal tidak ingin berhenti pada satu komoditas. Pengembangan usaha di sektor peternakan ayam telah masuk dalam rencana berikutnya.
Ketika ditanya mengenai langkah setelah ayam broiler, Dian mengatakan pihaknya masih akan mengembangkan bisnis pada sektor yang sama. Salah satu opsi yang mulai dipertimbangkan adalah usaha ayam petelur.
“Ke depan akan ada pengembangan usaha di bidang yang sama, masih perayaman, tetapi kemungkinan arahnya ke ayam petelur,” kata Dian.
Dari kandang di Karang Terbah, Giri Puspito sedang mempertaruhkan satu gagasan sederhana: ketahanan pangan tidak harus berhenti sebagai program, tetapi dapat tumbuh menjadi mesin ekonomi kalurahan. Panen 12 ribu ayam menjadi langkah pertama. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa keuntungan bisa berulang, usaha bisa berkembang, dan manfaatnya benar-benar kembali kepada masyarakat Terbah.

0 Komentar