P3MD Gunungkidul - Pengurus Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Asenat Natah, Kapanewon Nglipar, melakukan stok opname barang persediaan pada unit usaha Toko Onderdil BUMKal. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pembenahan tata kelola usaha dan memastikan kesesuaian antara kondisi barang secara fisik dengan catatan persediaan yang dimiliki BUMKal.
Stok opname dilaksanakan pada Selasa (6/10/2026) di Toko Onderdil BUMKal Asenat yang berlokasi di Pedukuhan Natah Kulon, Kalurahan Natah.
Kegiatan diikuti oleh Direktur, Bendahara dan sejumlah pengurus BUMKal Asenat, dengan didampingi Tim Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Gunungkidul, Pendamping Desa (PD) dan Pendamping Lokal Desa (PLD) Kapanewon Nglipar. Turut hadir pula unsur Pemerintah Kalurahan Natah.
Mencocokkan Stok Fisik dengan Catatan
Stok opname dilakukan dengan menghitung secara langsung seluruh barang persediaan yang tersedia di toko. Hasil penghitungan kemudian dibandingkan dengan data yang tercatat dalam buku persediaan BUMKal.
Langkah tersebut penting untuk mengetahui kondisi riil persediaan barang yang dimiliki BUMKal. Selisih antara catatan dan kondisi fisik dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui kemungkinan adanya barang yang telah terjual namun belum tercatat, kesalahan pencatatan, barang rusak maupun persoalan administrasi lainnya.
Bagi BUMKal Asenat, kegiatan stok opname sekaligus menjadi bagian dari proses pembenahan administrasi unit usaha Toko Onderdil agar pengelolaan persediaan ke depan dapat dilakukan secara lebih tertib.
Aris Soroti Sistem Pencatatan Persediaan
Aris Nurkholis, TAPM Kabupaten Gunungkidul, turut terlibat langsung dalam proses stok opname. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar menghitung jumlah barang yang ada di toko, tetapi menjadi momentum untuk membangun sistem pengelolaan persediaan yang lebih baik.
Aris menyoroti bahwa hingga saat ini BUMKal Asenat masih perlu melakukan pembenahan dalam sistem pencatatan barang persediaan, termasuk pencatatan Harga Pokok Penjualan (HPP).
“Stok opname ini penting untuk mengetahui berapa sebenarnya barang yang ada secara fisik dan kemudian kita cocokkan dengan catatan. Tetapi yang lebih penting, ke depan BUMKal harus memiliki sistem pencatatan persediaan yang rapi,” ujar Aris.
Menurutnya, sistem pencatatan yang baik harus mampu memberikan informasi secara cepat mengenai barang yang masuk, barang yang terjual, harga pokoknya, serta jumlah persediaan yang masih tersedia.
“Kita harus bisa mengetahui dengan cepat dan mudah, barang apa yang terjual, berapa harga pokok penjualannya, berapa nilai penjualannya dan berapa stok yang masih tersisa. Kalau sistemnya rapi, informasi tersebut tidak perlu dicari secara manual setiap kali dibutuhkan,” jelasnya.
HPP Menjadi Bagian Penting
Aris menekankan bahwa pencatatan persediaan tidak cukup hanya mengetahui jumlah unit barang. BUMKal juga perlu mengetahui nilai persediaan dan HPP sehingga dapat menghitung laba usaha secara lebih akurat.
Hal tersebut sangat penting bagi Toko Onderdil karena jenis barang yang dijual cukup beragam dan memiliki harga perolehan yang berbeda.
Tanpa pencatatan HPP yang baik, BUMKal akan kesulitan mengetahui berapa keuntungan sebenarnya yang diperoleh dari setiap transaksi penjualan.
“Kalau kita hanya tahu barang terjual sekian, tetapi tidak tahu berapa HPP-nya, maka kita belum bisa menghitung keuntungan secara tepat. Karena itu, sistem persediaan dan HPP harus dibangun bersamaan,” tambah Aris.
Ia mendorong pengurus BUMKal untuk mulai membangun sistem pencatatan yang sederhana namun konsisten. Sistem tersebut dapat dikembangkan sesuai kemampuan pengurus dan kebutuhan unit usaha.
Menuju Pengelolaan Toko yang Lebih Profesional
Stok opname juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi pengurus BUMKal mengenai pentingnya pengendalian persediaan. Pengelolaan stok yang baik dapat membantu menghindari kehilangan barang, kesalahan pencatatan, penumpukan barang yang tidak laku maupun kekurangan stok barang yang dibutuhkan pelanggan.
Ke depan, hasil stok opname diharapkan menjadi dasar untuk melakukan rekonsiliasi antara kondisi fisik, buku persediaan dan catatan transaksi penjualan.
Pembenahan tersebut juga akan mendukung penyusunan laporan keuangan BUMKal berbasis akuntansi karena data persediaan menjadi salah satu komponen penting dalam menentukan posisi aset dan perhitungan hasil usaha.
Bagi BUMKal Asenat Natah, kegiatan stok opname menjadi salah satu langkah konkret dalam proses pembenahan tata kelola usaha yang terus dilakukan. Setelah sebelumnya melakukan pembenahan laporan keuangan, kini perhatian diarahkan pada penguatan sistem pengendalian barang persediaan.
“Jangan sampai stok hanya dihitung ketika ada kebutuhan laporan. Idealnya, pencatatan dilakukan setiap ada barang masuk dan barang keluar, sehingga posisi persediaan bisa diketahui setiap saat,” pungkas Aris.
Dengan sistem pencatatan persediaan yang lebih tertib, BUMKal Asenat diharapkan mampu mengelola Toko Onderdil secara lebih profesional. Barang terjual tercatat, HPP terukur, stok terpantau, dan laba usaha dapat dihitung secara lebih akurat. (ANK)

0 Komentar