Giripanggung, Tepus (11 Agustus 226) – Pemerintah Kalurahan Giripanggung, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengelola BUMKal Giri Sejahtera pada 11 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kalurahan Giripanggung mengoptimalkan pelaksanaan Program Reformasi Kalurahan, khususnya dalam bidang pemberdayaan masyarakat melalui penguatan kapasitas kelembagaan dan pengembangan usaha BUMKal.
Kegiatan diikuti unsur lengkap pengelola BUMKal Giri Sejahtera, yaitu penasihat, pengawas, direktur, sekretaris, bendahara, dan manajer usaha. Selain itu, kegiatan juga melibatkan Ketua Badan Permusyawaratan Kalurahan (Bamuskal), pengurus Tim Penggerak PKK, serta pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan yang kini berganti nama menjadi Pirukunan Tuwanggono.
Kegiatan menghadirkan Ki-Slamet, Espede, Esha, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Gunungkidul, sebagai narasumber. Materi peningkatan kapasitas diarahkan tidak hanya untuk memperkuat pemahaman pengelola mengenai tata kelola BUMKal, tetapi juga mendorong pengelola mampu melihat kondisi usaha secara objektif, menemukan akar masalah, menentukan prioritas perbaikan, dan menyusun strategi pengembangan usaha.
BUMKal Tidak Sekadar Menjalankan Usaha
Kegiatan dibuka oleh Kasi Ulu-Ulu Kalurahan Giripanggung, Suyadi, yang menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan peningkatan kapasitas. Dalam sambutannya, Suyadi juga menyampaikan gambaran singkat perkembangan BUMKal Giri Sejahtera selama tiga tahun terakhir.
Menurut Suyadi, penguatan kapasitas menjadi penting karena perkembangan BUMKal tidak cukup hanya dilihat dari keberadaan unit usaha atau besarnya modal yang telah disertakan. Pengelolaan BUMKal perlu terus diperbaiki agar mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta Kalurahan Giripanggung.
“Kegiatan ini kami selenggarakan agar pengelola BUMKal tidak hanya menjalankan usaha seperti rutinitas, tetapi mampu memahami bagaimana usaha tersebut dikelola, dievaluasi, dan dikembangkan. Harapannya, BUMKal Giri Sejahtera semakin sehat dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi kalurahan dan masyarakat,” ujar Suyadi.
Pandangan tersebut sejalan dengan materi pelatihan yang menempatkan BUMKal sebagai organisasi bisnis yang perlu dikelola secara profesional. Dalam materi disebutkan bahwa BUMKal yang baik dan sukses bukan hanya yang memiliki modal, tetapi juga harus profesional, mandiri, adaptif, transparan dan akuntabel, berdampak bagi masyarakat, serta berkelanjutan.
Dua Sesi: Tata Kelola dan Evaluasi Pengembangan BUMKal
Penyampaian materi dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama membahas tata kelola BUMKal, sedangkan sesi kedua membahas evaluasi dan pengembangan BUMKal.
Pada sesi tata kelola, peserta diajak memahami bahwa BUMKal membutuhkan sistem pengelolaan yang jelas agar organisasi dapat berjalan secara tertib, sehat, transparan, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan. Materi juga membahas prinsip transparansi, akuntabilitas, profesionalitas, partisipasi, dan keberlanjutan.
Peserta juga diajak memahami pembagian peran antara Musyawarah Kalurahan, penasihat, badan pengawas, direktur, sekretaris, bendahara, dan unit usaha. Pembagian tugas yang jelas dipandang penting untuk menghindari tumpang tindih kewenangan sekaligus memperkuat akuntabilitas dan efektivitas pengelolaan BUMKal.
Ki-Slamet menekankan bahwa tata kelola bukan sekadar persoalan administrasi, tetapi merupakan fondasi agar kegiatan usaha dapat berjalan secara terarah.
“BUMKal tidak cukup hanya memiliki modal dan unit usaha. Yang menentukan keberlanjutan BUMKal adalah bagaimana modal, orang, proses usaha, keuangan, pemasaran, dan pengawasan dikelola dalam satu sistem. Karena itu, tata kelola harus menjadi fondasi sebelum kita berbicara tentang pengembangan usaha,” jelas Ki-Slamet.
Menurutnya, pembagian peran yang jelas juga penting agar setiap unsur dalam BUMKal memahami posisi, tugas, tanggung jawab, dan kewenangannya. Dengan demikian, pengurus dapat bekerja secara profesional tanpa terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan kegiatan usaha.
Dari “Usaha Berjalan” Menuju “Usaha Sehat”
Sesi kedua membawa peserta pada pembahasan evaluasi dan pengembangan usaha. Pendekatan yang digunakan adalah business check up, yaitu melihat kondisi BUMKal secara objektif untuk mengetahui posisi saat ini, menemukan masalah utama, memahami penyebabnya, menentukan perbaikan, dan merancang pengembangan.
Materi menegaskan bahwa usaha yang berjalan belum tentu merupakan usaha yang sehat. Usaha yang sehat perlu memiliki pasar, produksi yang baik, efisiensi, cashflow, laba, dan tata kelola.
Untuk melihat kondisi BUMKal secara menyeluruh, digunakan tujuh aspek penilaian, yaitu SDM, keuangan, produksi, pemasaran, organisasi, kemitraan, dan digitalisasi. Dalam contoh evaluasi BUMKal Giri Sejahtera, aspek keuangan memperoleh nilai 3,6 atau kategori baik, produksi 3,4, SDM 3,2, kemitraan 3,1, organisasi 3,0, pemasaran 2,8, dan digitalisasi 2,6. Hasil tersebut digunakan sebagai dasar untuk menentukan prioritas perbaikan, bukan untuk mencari kesalahan pengelola.
Ki-Slamet menjelaskan bahwa evaluasi seharusnya menjadi instrumen pembelajaran bagi pengelola.
“Evaluasi bukan untuk mencari siapa yang salah. Evaluasi digunakan untuk melihat kondisi kita secara objektif. Kalau ada bagian yang belum baik, justru di situlah kita menemukan ruang untuk melakukan perbaikan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pengelola perlu membedakan antara gejala masalah dan akar masalah. Sebagai contoh, keuntungan yang rendah tidak serta-merta berarti usaha membutuhkan tambahan modal. Keuntungan rendah dapat disebabkan oleh penjualan yang rendah, biaya yang tinggi, produktivitas yang rendah, harga jual yang tidak tepat, atau kombinasi beberapa faktor.
Pendekatan tersebut kemudian diterapkan pada contoh usaha BUMKal Giri Sejahtera, termasuk usaha telur bebek, budidaya lele, dan penggemukan sapi. Peserta diajak melihat hubungan antara biaya produksi, produktivitas, pemasaran, pendapatan, dan laba sebelum menentukan keputusan pengembangan usaha.
Modal Harus Berubah Menjadi Usaha yang Produktif
Salah satu bagian yang mendapat perhatian peserta adalah penggunaan modal ketahanan pangan. Dalam materi ditampilkan bahwa BUMKal Giri Sejahtera telah menerima penyertaan modal dari Dana Desa 2025 sebesar Rp270.695.000 yang kemudian digunakan untuk mendukung kegiatan usaha, antara lain pembelian lima ekor sapi, pembayaran kebutuhan usaha lele, serta pembangunan kandang bebek dan kebutuhan terkait lainnya.
Peserta diajak tidak berhenti pada pertanyaan apakah modal telah digunakan, tetapi melangkah lebih jauh dengan menilai seberapa produktif modal tersebut.
Dalam materi juga ditunjukkan perkembangan usaha BUMKal. Berdasarkan data yang digunakan dalam bahan pelatihan, BUMKal Giri Sejahtera memiliki modal akhir 2024 sebesar Rp400 juta, omzet Rp512 juta, laba bersih Rp68,5 juta, dan kontribusi untuk PADes sebesar Rp30 juta.
Hal tersebut menjadi bahan refleksi bersama bahwa keberhasilan BUMKal tidak cukup diukur dari terserapnya modal, tetapi dari kemampuan modal tersebut menghasilkan pendapatan, laba, pertumbuhan usaha, dan manfaat bagi kalurahan.
Dialog Peserta Memperkuat Pemahaman Praktis
Pada setiap sesi, penyampaian materi berlangsung secara dialogis. Peserta diberikan ruang untuk menyampaikan pertanyaan, memberikan tanggapan, serta menghubungkan materi dengan kondisi nyata yang dihadapi dalam pengelolaan BUMKal Giri Sejahtera.
Dialog terutama berkembang ketika peserta membahas persoalan produktivitas usaha, biaya pakan, pemasaran, pengembangan unit usaha, pembagian peran pengelola, serta bagaimana menentukan apakah suatu usaha perlu dikembangkan, diperbaiki terlebih dahulu, atau dievaluasi kembali.
Pendekatan tersebut membuat kegiatan tidak berhenti sebagai pelatihan teoritis. Peserta diajak menggunakan data dan kondisi usaha BUMKal sendiri sebagai bahan untuk melakukan evaluasi.
Model evaluasi yang diperkenalkan juga mengarahkan pengelola untuk menentukan prioritas. Usaha yang sehat dan potensial dapat dikembangkan, usaha yang potensial tetapi masih menghadapi masalah perlu diperbaiki terlebih dahulu, sedangkan usaha yang belum menunjukkan prospek memadai perlu dievaluasi kembali. Materi juga menekankan bahwa masalah usaha tidak selalu diselesaikan dengan menambah modal.
Hilirisasi Menjadi Salah Satu Arah Pengembangan
Dalam materi pengembangan usaha, peserta juga diperkenalkan dengan gagasan hilirisasi usaha, yaitu mengembangkan usaha dari hulu sampai hilir agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
Untuk BUMKal Giri Sejahtera, hilirisasi dicontohkan melalui pengembangan usaha lele, bebek, dan ternak sapi. Usaha lele, misalnya, tidak hanya diarahkan pada penjualan lele segar, tetapi dapat dikembangkan menuju produk olahan seperti lele filet, lele frozen, atau nugget lele. Demikian pula usaha bebek diarahkan tidak hanya menjual telur, tetapi dapat dikembangkan menjadi telur asin dan produk olahan lainnya.
Pengembangan dari hulu ke hilir tersebut dipandang selaras dengan agenda Reformasi Kalurahan karena BUMKal diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi kalurahan, membuka kesempatan usaha dan kerja, memperkuat ekonomi masyarakat, serta meningkatkan manfaat ekonomi bagi kalurahan.
Menyusun Langkah Tindak Lanjut
Kegiatan peningkatan kapasitas juga diarahkan pada penyusunan langkah tindak lanjut. Dalam materi diperkenalkan roadmap satu tahun BUMKal Giri Sejahtera yang dibagi ke dalam empat tahap atau triwulan, mulai dari penguatan komitmen pengurus, SOP dan pembukuan, riset produk, peningkatan SDM, diversifikasi, digitalisasi dan pemasaran, penguatan produksi dan kemitraan, hingga evaluasi dan penyusunan rencana pengembangan berikutnya.
Dengan pendekatan tersebut, peningkatan kapasitas diharapkan tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan peserta, tetapi berlanjut menjadi perubahan cara kerja dan perbaikan kinerja BUMKal.
Direktur: Materi Memberikan Pemahaman Praktis
Pada penutupan kegiatan, Direktur BUMKal Giri Sejahtera, Eko Iman Prasetyo, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas tersebut.
Menurut Eko, materi yang diberikan memberikan perspektif baru bagi pengelola, terutama dalam memahami bahwa pengelolaan BUMKal tidak cukup hanya memastikan unit usaha berjalan, tetapi harus secara berkala mengevaluasi apakah usaha tersebut sehat, menguntungkan, berkembang, dan memberikan manfaat bagi kalurahan.
“Kegiatan peningkatan kapasitas hari ini memberikan pemahaman yang praktis kepada kami tentang bagaimana tata kelola BUMKal yang baik, sekaligus bagaimana melakukan evaluasi terhadap usaha yang sudah berjalan. Kami juga mendapatkan gambaran model yang dapat digunakan untuk menentukan perbaikan dan menyusun rencana pengembangan BUMKal ke depan,” kata Eko.
Ia berharap hasil kegiatan dapat ditindaklanjuti oleh seluruh unsur pengelola melalui perbaikan tata kelola, evaluasi usaha secara berkala, serta penyusunan rencana pengembangan yang lebih terukur.
“Yang terpenting setelah kegiatan ini adalah tindak lanjutnya. Apa yang sudah kami pahami harus diterapkan dalam pengelolaan BUMKal, sehingga usaha Giri Sejahtera tidak hanya berjalan, tetapi menjadi semakin sehat, menguntungkan, berkembang, dan memberikan manfaat bagi masyarakat Giripanggung,” lanjutnya.
Penguatan BUMKal sebagai Bagian dari Reformasi Kalurahan
Kegiatan peningkatan kapasitas BUMKal Giri Sejahtera Giripanggung pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana mengelola sebuah badan usaha. Lebih jauh, kegiatan tersebut menempatkan BUMKal sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi kalurahan dan pemberdayaan masyarakat.
BUMKal yang dikelola secara profesional, transparan, akuntabel dan berkelanjutan diharapkan mampu mengelola potensi kalurahan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif. Keberhasilan BUMKal tidak hanya diukur dari besarnya modal atau omzet, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan laba, menjaga keberlanjutan usaha, menciptakan manfaat ekonomi, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat serta kalurahan.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kalurahan Giripanggung bersama pengelola BUMKal Giri Sejahtera menunjukkan komitmen untuk menjadikan peningkatan kapasitas sebagai bagian dari proses pembenahan yang berkelanjutan.
Sebagaimana pesan yang mengemuka dalam materi pelatihan, BUMKal yang kuat membutuhkan perencanaan yang baik, pengelolaan yang baik, kerja sama, inovasi berkelanjutan, dan komitmen pengurus. Dengan fondasi tersebut, BUMKal Giri Sejahtera diharapkan mampu terus berkembang dari usaha yang sekadar berjalan menjadi usaha yang sehat, menguntungkan, berkelanjutan, dan semakin memberikan manfaat bagi masyarakat Kalurahan Giripanggung.
Pewarta: ki-slamet (tapm gunungkidul)
0 Komentar