BUMKal Dengok Didorong Tak Sekadar Berani Berusaha, tetapi Mampu Menghitung Kelayakan Bisnis


P3MD Gunungkidul - Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) tidak cukup hanya memiliki keberanian untuk membuka dan mengembangkan usaha. Setiap rencana bisnis perlu didukung dengan perhitungan yang matang agar modal, sumber daya, dan potensi yang dimiliki kalurahan dapat dikelola secara efektif dan berkelanjutan.

Pesan tersebut disampaikan Nugraeni, dosen Universitas Mercu Buana Yogyakarta, dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Kelembagaan BUMKal Dengok yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (PMK2PS) DIY, Selasa (22/9/2026).

Nugraeni menekankan pentingnya kemampuan pengelola BUMKal dalam melakukan analisis kelayakan usaha dan penghitungan bisnis sebelum memutuskan untuk menjalankan maupun mengembangkan sebuah unit usaha.

“BUMKal tidak cukup hanya berani berusaha. Setiap rencana usaha perlu dihitung dan dianalisis agar keputusan yang diambil memiliki dasar yang jelas,” ujar Nugraeni.

Enam Aspek Kelayakan Usaha

Menurut Nugraeni, analisis kelayakan usaha harus dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Setidaknya terdapat enam aspek utama yang perlu menjadi perhatian BUMKal, yakni pasar dan pemasaran; teknis dan operasional; manajemen dan SDM; hukum dan legalitas; serta sosial, ekonomi dan lingkungan.

Aspek pasar dan pemasaran menjadi salah satu titik awal yang penting. BUMKal perlu mengetahui siapa calon konsumennya, kebutuhan pasar, potensi permintaan, keberadaan pesaing, hingga strategi pemasaran yang akan digunakan.

“Jangan sampai produk dibuat terlebih dahulu, tetapi setelah itu baru mencari siapa yang akan membeli. Pasarnya harus dipahami sejak awal,” jelasnya.

Selanjutnya, aspek teknis dan operasional berkaitan dengan kesiapan BUMKal menjalankan usaha. Hal tersebut mencakup kebutuhan lokasi, peralatan, teknologi, bahan baku, proses produksi, kapasitas usaha hingga sistem distribusi.

BUMKal perlu memastikan bahwa rencana usaha yang dibuat dapat dijalankan dengan sumber daya yang tersedia.

SDM dan Legalitas Tak Boleh Diabaikan

Aspek berikutnya adalah manajemen dan sumber daya manusia. Menurut Nugraeni, bisnis membutuhkan orang yang memiliki kompetensi dan pembagian tugas yang jelas.

Struktur organisasi, uraian tugas, kompetensi pengelola, sistem pengawasan serta mekanisme evaluasi perlu disiapkan agar kegiatan usaha dapat berjalan secara profesional.

Selain SDM, hukum dan legalitas juga menjadi bagian penting dalam analisis kelayakan. Jenis usaha yang akan dijalankan harus memperhatikan perizinan, sertifikasi, kontrak kerja sama serta ketentuan hukum yang relevan.

Legalitas yang jelas akan memberikan kepastian dalam menjalankan kegiatan usaha sekaligus membantu mengurangi potensi persoalan hukum di kemudian hari.

Bisnis BUMKal Harus Memberikan Manfaat

Yang tidak kalah penting adalah melihat aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Sebagai badan usaha yang berada di tingkat kalurahan, BUMKal tidak hanya dituntut menghasilkan keuntungan, tetapi juga diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dampak usaha terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, pemanfaatan potensi lokal serta keberlanjutan lingkungan perlu menjadi bagian dari pertimbangan.

“BUMKal harus melihat manfaat usaha secara lebih luas. Bukan hanya apakah usaha itu menghasilkan keuntungan, tetapi juga bagaimana dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan,” kata Nugraeni.

Keputusan Bisnis Harus Berbasis Angka

Selain mengidentifikasi aspek kelayakan, BUMKal juga perlu menerjemahkan rencana bisnis ke dalam perhitungan angka. Pengelola harus mengetahui berapa kebutuhan investasi, biaya operasional, potensi pendapatan, keuntungan, arus kas, hingga waktu yang diperlukan untuk mencapai titik pengembalian modal.

Penghitungan tersebut menjadi penting agar pengelola dapat mengetahui kemampuan usaha sekaligus melakukan simulasi terhadap berbagai risiko yang mungkin terjadi.

Dengan demikian, keputusan untuk membuka atau mengembangkan usaha tidak hanya berdasarkan intuisi maupun asumsi, tetapi melalui pertimbangan yang lebih terukur.

Pelatihan Penguatan Kelembagaan BUMKal Dengok menjadi ruang bagi pengelola untuk memperkuat kapasitas tersebut. Melalui pemahaman analisis kelayakan dan penghitungan bisnis, BUMKal diharapkan mampu mengubah ide usaha menjadi rencana bisnis yang lebih terstruktur.

Pada akhirnya, keberanian mengambil peluang harus berjalan beriringan dengan kemampuan menghitung risiko. BUMKal yang ingin berkembang tidak cukup hanya berani memulai, tetapi juga harus mampu membaca pasar, menghitung biaya dan manfaat, mengukur risiko, serta memastikan bahwa setiap keputusan bisnis memiliki dasar yang kuat. (ANK)

Posting Komentar

0 Komentar