Dari Dana Desa Menjadi Inspirasi: KPPN Wonosari dsn TAPM P3MD Gunungkidul Dokumentasikan Praktek Baik 2026
GUNUNGKIDUL – Pengelolaan Dana Desa tidak sekadar berbicara
tentang penyaluran dan pertanggungjawaban anggaran. Di balik dana yang
dikucurkan pemerintah, terdapat berbagai cerita tentang inovasi, kerja keras,
pemberdayaan masyarakat, hingga keberhasilan desa membangun kemandirian
ekonomi.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Kantor Pelayanan
Perbendaharaan Negara (KPPN) Wonosari menyambut positif gagasan Tenaga Ahli
Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Gunungkidul untuk mendokumentasikan
berbagai praktik baik kegiatan yang bersumber dari Dana Desa Tahun 2026.
Kesepakatan tersebut mengemuka dalam Forum Konsultasi Publik
yang digelar Kamis (27/8/2026) di Aula Lantai II Kantor KPPN Wonosari,
Kabupaten Gunungkidul. Forum mengangkat tema “Peran KPPN Wonosari dalam
Mengawal Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten
Gunungkidul.”
Forum tersebut diikuti berbagai unsur, mulai dari rekanan
KPPN, perguruan tinggi, unsur masyarakat, wartawan, hingga para pemangku
kepentingan terkait di Kabupaten Gunungkidul.
Kepala KPPN Wonosari, Anasari Asih, dalam kesempatan
tersebut memaparkan tugas pokok dan fungsi KPPN sekaligus membuka ruang
seluas-luasnya bagi peserta untuk menyampaikan masukan, gagasan, maupun
persoalan yang berkembang di masyarakat.
Suasana forum berlangsung cukup dinamis. Peserta tidak hanya
mendengarkan paparan, tetapi juga aktif menyampaikan pandangan terkait
bagaimana peran KPPN dapat semakin memberikan dampak terhadap pertumbuhan
ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Gunungkidul.
Salah satu masukan menarik disampaikan Teguh Santosa, TAPM
Kabupaten Gunungkidul. Ia mengusulkan agar berbagai keberhasilan dan inovasi
desa dalam memanfaatkan Dana Desa tidak berhenti sebagai laporan administratif,
tetapi juga didokumentasikan menjadi cerita praktik baik yang dapat dilihat,
dipelajari, dan ditiru oleh desa-desa lainnya.
Menurut Teguh, di 144 kalurahan yang tersebar di 18
kapanewon di Gunungkidul terdapat banyak kegiatan yang layak diangkat ke ruang
publik. Mulai dari pengembangan usaha ekonomi masyarakat, ketahanan pangan,
penguatan BUM Desa/BUMKal, pembangunan infrastruktur, pemberdayaan kelompok
masyarakat, hingga berbagai inovasi yang mampu memberikan manfaat langsung bagi
warga.
“Kegiatan yang baik perlu didokumentasikan. Bukan hanya
sebagai laporan, tetapi juga sebagai inspirasi dan pembelajaran. Dengan begitu,
praktik baik dari satu kalurahan bisa menjadi motivasi bagi kalurahan lainnya,
bahkan dapat menjadi contoh di luar Gunungkidul,” demikian gagasan yang
disampaikan Teguh dalam forum tersebut.
Gagasan itu ternyata mendapat sambutan positif dari Kepala
KPPN Wonosari. Gayung pun bersambut. Anasari Asih menyatakan kesediaannya untuk
membangun kemitraan bersama TAPM Gunungkidul dalam mendokumentasikan
praktik-praktik baik pemanfaatan Dana Desa Tahun 2026.
Kesepakatan tersebut menjadi salah satu poin menarik dalam
forum konsultasi publik. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan
dokumentasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menggambarkan dampak
nyata Dana Desa terhadap kehidupan masyarakat.
Selama ini, keberhasilan sebuah program desa sering kali
hanya terlihat dalam angka-angka laporan. Padahal, di lapangan terdapat kisah
yang jauh lebih menarik: bagaimana masyarakat mengelola bantuan, bagaimana
pemerintah kalurahan mengambil keputusan, bagaimana kelompok masyarakat
mengembangkan usaha, serta bagaimana sebuah program akhirnya mampu membuka
peluang ekonomi bagi warga.
Dokumentasi praktik baik diharapkan dapat menjembatani dua
hal tersebut, yakni akuntabilitas anggaran dan cerita kebermanfaatan bagi
masyarakat.
KPPN sebagai salah satu institusi pemerintah yang memiliki
peran penting dalam pengelolaan dan penyaluran anggaran negara dapat memperoleh
gambaran lebih dekat mengenai dampak pemanfaatan Dana Desa. Sementara TAPM
memiliki pengalaman dan jaringan pendampingan di tingkat kalurahan sehingga
dapat membantu menemukan, menggali, serta mengemas berbagai praktik baik yang
ada di lapangan.
Kolaborasi ini juga menjadi langkah positif dalam membangun
komunikasi antara pemerintah, pendamping masyarakat, kalurahan, dan publik.
Dengan adanya dokumentasi tersebut, masyarakat nantinya
tidak hanya mengetahui berapa besar Dana Desa yang disalurkan, tetapi juga
dapat melihat untuk apa dana tersebut digunakan dan sejauh mana manfaatnya
dirasakan masyarakat.
Lebih jauh, dokumentasi praktik baik dapat menjadi media
pembelajaran antarkalurahan. Sebuah inovasi yang berhasil di satu tempat dapat
direplikasi dengan menyesuaikan kondisi dan potensi kalurahan lainnya.
Forum Konsultasi Publik KPPN Wonosari akhirnya tidak sekadar
menjadi ruang menyampaikan aspirasi. Forum tersebut melahirkan sebuah gagasan
kolaboratif yang konkret: mengubah pengalaman baik di lapangan menjadi
pengetahuan dan inspirasi yang dapat dibagikan kepada masyarakat luas.
Kepala KPPN Wonosari menyambut baik gagasan tersebut dan
menyatakan akan segera mengimplementasikannya bersama TAPM Gunungkidul.
Forum yang berlangsung meriah tersebut pun mendapatkan
apresiasi dari para tamu undangan. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa sinergi
dan keterbukaan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi bagian
penting dalam mengawal penggunaan anggaran agar semakin memberikan manfaat
nyata.
Kini, bola berada di tangan KPPN Wonosari dan TAPM Gunungkidul. Dari berbagai kalurahan di Gunungkidul, akan lahir cerita-cerita tentang Dana Desa yang bekerja, masyarakat yang bergerak, dan desa yang tumbuh. Bukan sekadar angka dalam laporan, tetapi praktik baik yang layak diketahui, diapresiasi, dan menjadi inspirasi.(tgs)

0 Komentar