Sinergitas Itu Mudah Diucapkan, Sulit Diwujudkan


Hampir di setiap rapat, forum koordinasi, maupun sambutan kegiatan hingga pesan whatsapp grup, kata sinergitas selalu hadir. Ia menjadi istilah yang terdengar indah, penuh semangat kebersamaan, dan seolah menjadi jawaban atas banyak persoalan dalam pembangunan kalurahan.

Namun dalam praktiknya, sinergitas seringkali menjadi sesuatu yang mudah diucapkan, tetapi sulit diwujudkan.

Mengapa?

Karena sinergitas bukan sekadar hadir dalam satu forum, duduk bersama, lalu berfoto setelah kegiatan selesai. Sinergitas adalah kesediaan untuk berjalan bersama, berpikir bersama, bekerja bersama, bahkan terkadang mengalah demi tujuan yang lebih besar.

Lebih dari itu, sinergitas juga lahir dari sikap saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Ada ruang untuk mendengar, ada kesadaran untuk memahami peran masing-masing, dan ada kemauan untuk menjaga kepercayaan yang sudah dibangun bersama.

Sinergitas tidak akan tumbuh jika masih ada sikap saling menegasikan, merasa paling penting, atau diam-diam berjalan sendiri di belakang kesepakatan bersama. Karena ketika komunikasi mulai ditinggalkan dan rasa saling percaya mulai dikikis, maka yang muncul bukan lagi kolaborasi, melainkan sekat-sekat yang perlahan melemahkan tujuan bersama.

Dan di situlah tantangannya.

Setiap pihak memiliki ego, cara pandang, ritme kerja, serta kepentingannya masing-masing. Dinas merasa punya tanggung jawab kebijakan. Kapanewon memiliki peran koordinasi wilayah. Kalurahan sibuk dengan dinamika lokalnya. Teman-teman TPP bekerja dengan tekanan target dan kondisi lapangan yang tidak selalu mudah.

Semua merasa bekerja keras.
Semua merasa memiliki beban.
Dan kadang, semua juga merasa paling benar.

Di titik itulah sinergitas mulai diuji.

Seringkali persoalan bukan karena tidak ada kemampuan, tetapi karena kurangnya rasa saling memahami. Komunikasi yang tidak tuntas melahirkan prasangka. Koordinasi yang renggang menimbulkan salah paham. Hal kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan dialog, justru membesar karena masing-masing mempertahankan ego.

Padahal tujuan kita sama: membangun kalurahan agar lebih maju dan masyarakat lebih sejahtera.

Ironisnya, kita sering lebih mudah menuntut orang lain untuk kompak dibanding memperbaiki diri sendiri. Kita ingin dihargai, tetapi kadang lupa menghargai. Kita ingin diajak berkoordinasi, tetapi kadang sulit membuka komunikasi. Kita ingin dianggap bagian penting, tetapi terkadang enggan mengakui peran pihak lain.

Sinergitas akhirnya tidak cukup dibangun lewat instruksi ataupun slogan. Ia tumbuh dari kedewasaan sikap.

Dari kemauan untuk mendengar.
Dari kemampuan menahan ego.
Dari kesadaran bahwa tidak ada keberhasilan yang lahir dari kerja sendirian.

Dalam kerja-kerja pemberdayaan kalurahan, keberhasilan bukan milik satu lembaga atau satu orang. Semua saling terhubung. Ketika satu pihak berjalan sendiri-sendiri, maka yang muncul bukan percepatan, tetapi kelelahan kolektif.

Karena itu, membangun sinergitas sejatinya adalah membangun rasa saling percaya. Bahwa kita berada di jalan yang sama. Bahwa setiap pihak punya kontribusi. Bahwa setiap kita memiliki peran dan tanggungjawab masing-masing. Dan bahwa tujuan besar tidak akan tercapai jika kita sibuk membesarkan sekat-sekat kecil di antara kita.

Sinergitas memang mudah diucapkan.
Tetapi ia hanya bisa diwujudkan oleh orang-orang yang mampu menempatkan kepentingan bersama di atas ego pribadi.

Pada akhirnya, sinergitas atau kekompakan bukan dibangun oleh siapa yang paling menonjol, tetapi oleh mereka yang mampu menjaga etika, menghormati proses, dan tetap berjalan bersama meski memiliki perbedaan pandangan.

Posting Komentar

0 Komentar