Dalam sebuah tim, setiap orang membawa kelebihan, pengalaman, dan cara pandang yang berbeda. Semua itu menjadi energi yang menggerakkan tujuan bersama. Namun, kadang ada rasa yang muncul dalam hati: merasa diri paling mampu - paling bisa bekerja, paling berkontribusi, paling berjasa, paling benar, paling mengerti konsep, paling berpengalaman, paling menyelesaikan masalah, dan segala “paling” lainnya. Di saat bersamaan, anggota tim lain sering kali secara tidak sadar dianggap kurang sigap, kurang cepat, kurang berkontribusi, atau kurang mampu.
Perasaan itu mungkin hadir karena kita memang sungguh-sungguh bekerja keras. Kita merasa kontribusi terbesar sering datang dari tangan kita. Kita terbiasa mengambil peran lebih banyak. Kita ingin hasil yang terbaik. Kita ingin hasil yang cepat. Semua itu bisa menjadi niat baik, tapi juga bisa berubah menjadi tembok tinggi yang memisahkan kita dari tim sendiri.
Sebab ketika kita merasa selalu berada di puncak, tanpa sadar kita menempatkan yang lain di dasar.
Yang sering terlupa adalah:
- Keberhasilan tim bukan hasil kerja satu orang.
- Tidak semua kontribusi terlihat di permukaan.
- Orang lain mungkin bekerja dalam diam, namun dampaknya menentukan.
Tim tidak membutuhkan siapa yang paling hebat. Tim membutuhkan kebersamaan yang menguatkan. Kepemimpinan sejati bukan tentang menunjukkan siapa yang paling mampu, tetapi menghidupkan kemampuan semua orang.
Memang, menjadi yang selalu terdepan bisa membuat kita dipercaya. Tetapi jika tidak hati-hati, bisa juga menimbulkan jarak, menumbuhkan kekecewaan orang lain, dan membuat kita lelah sendiri.
Tidak ada pemimpin hebat yang lahir dari sikap merasa paling. Pemimpin hebat justru tumbuh dari kemampuan memberi ruang kepada orang lain untuk tumbuh bersama.
Karena pada akhirnya…

2 Komentar
Ingat... Seberat apapun pekerjaan, akan terasa ringan ketika tidak dikerjakan....
BalasHapusbetul-betul
Hapus