Tantangan Berat BUMKal di Usaha Ketahanan Pangan Ayam dan Bebek Petelur



P3MD Gunungkidul - Sejumlah Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) di Kabupaten Gunungkidul mulai menghadapi tantangan berat dalam menjalankan usaha ketahanan pangan, khususnya budidaya ayam petelur dan bebek petelur. Kenaikan harga pakan di tengah harga telur yang cenderung stagnan bahkan melemah membuat margin usaha semakin tertekan.

Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius, mengingat cukup banyak BUMKal di Gunungkidul yang memilih budidaya ayam petelur sebagai salah satu bentuk usaha ketahanan pangan. Sebagian lainnya juga mengembangkan bebek petelur dengan harapan mampu menciptakan sumber pendapatan sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat kalurahan.

Persoalan mulai dirasakan ketika biaya produksi meningkat, sementara harga jual telur tidak mengalami kenaikan yang sebanding. Komponen pakan menjadi salah satu beban terbesar dalam usaha peternakan unggas petelur. Ketika harga pakan naik, biaya produksi per butir telur otomatis ikut meningkat.

Situasi ini berbeda dengan kondisi beberapa waktu sebelumnya. Menjelang Lebaran, sejumlah BUMKal sempat merasakan hasil usaha yang cukup menggembirakan. Produksi berjalan relatif baik dan harga telur berada pada level yang dinilai cukup stabil sehingga usaha peternakan memberikan margin yang lumayan.

Namun, kondisi pasar kemudian berubah. Harga pakan mengalami kenaikan, sementara harga telur relatif tidak bergerak mengikuti kenaikan biaya produksi. Akibatnya, keuntungan yang sebelumnya masih dapat dirasakan mulai tergerus.

Sejumlah BUMKal bahkan mulai menyampaikan keluhan atas kondisi tersebut. Jika situasi berlangsung dalam waktu lama, bukan tidak mungkin usaha yang awalnya dirancang sebagai instrumen penguatan ketahanan pangan justru menghadapi tekanan terhadap arus kas dan kemampuan BUMKal dalam mempertahankan keberlanjutan usahanya.

Jangan Hanya Mengandalkan Harga Jual Telur

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa usaha ayam petelur maupun bebek petelur membutuhkan manajemen usaha yang lebih cermat. BUMKal tidak cukup hanya menghitung keuntungan berdasarkan selisih antara harga telur dan harga pakan.

Berbagai komponen biaya harus dihitung secara riil, mulai dari pembelian bibit atau pullet, pakan, obat dan vitamin, tenaga kerja, listrik, air, penyusutan kandang dan peralatan, hingga risiko kematian dan penurunan produktivitas ternak.

Dengan perhitungan tersebut, BUMKal dapat mengetahui secara pasti berapa harga pokok produksi (HPP) telur per kilogram atau per butir. Angka tersebut menjadi dasar penting untuk menentukan apakah usaha masih memberikan keuntungan atau justru mulai mengalami kerugian.

“Jangan sampai BUMKal hanya melihat omzet penjualan telur. Omzet besar belum tentu berarti laba besar. Yang harus dilihat adalah berapa biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan setiap kilogram atau butir telur,” demikian prinsip penting yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan usaha peternakan BUMKal.

Perlu Langkah Strategis

Menghadapi kondisi pasar yang tidak menentu, BUMKal perlu mengambil langkah strategis, bukan sekadar menunggu harga telur kembali naik.

Pertama, melakukan evaluasi biaya produksi secara berkala. Perubahan harga pakan harus segera dihitung dampaknya terhadap HPP telur. BUMKal perlu memiliki data produksi harian, konsumsi pakan, tingkat produktivitas, mortalitas, hingga pendapatan penjualan.

Kedua, mengefisienkan penggunaan pakan tanpa mengorbankan produktivitas ternak. Efisiensi tidak berarti sekadar mengurangi pakan, tetapi memastikan formulasi, kualitas dan pemberian pakan benar-benar sesuai kebutuhan ternak.

Ketiga, memperkuat strategi pemasaran. BUMKal jangan hanya bergantung kepada pengepul. Jika memungkinkan, telur dapat dipasarkan secara langsung kepada konsumen, warung, toko, rumah makan, hotel, katering, maupun pasar lokal. Pemangkasan rantai distribusi dapat membantu meningkatkan margin.

Keempat, membangun kerja sama antar BUMKal atau dengan kelompok peternak. Pembelian pakan secara bersama-sama dalam volume tertentu berpotensi memberikan posisi tawar yang lebih baik. Kerja sama juga dapat dikembangkan dalam pemasaran telur.

Kelima, melakukan diversifikasi usaha. BUMKal perlu mempertimbangkan agar usaha ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada penjualan telur. Kotoran ayam atau bebek, misalnya, dapat dimanfaatkan atau dijual sebagai pupuk organik apabila secara ekonomi layak.

Keenam, menyiapkan skenario usaha berdasarkan kondisi pasar. BUMKal perlu mempunyai batas toleransi kapan harus melakukan ekspansi, mempertahankan populasi, mengurangi populasi, mengganti siklus produksi, atau melakukan langkah efisiensi lainnya.

Ketahanan Pangan Harus Tetap Berkelanjutan

Program ketahanan pangan melalui budidaya ayam dan bebek petelur pada dasarnya memiliki peluang yang cukup besar. Telur merupakan komoditas pangan yang dibutuhkan masyarakat dan memiliki pasar yang relatif luas.

Namun, potensi pasar tersebut tidak otomatis menjamin usaha BUMKal selalu menguntungkan. Fluktuasi harga pakan, harga telur, produktivitas ternak, penyakit, mortalitas, serta perubahan permintaan pasar merupakan risiko yang harus dikelola.

Karena itu, kondisi yang sedang dialami sejumlah BUMKal di Gunungkidul seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama. Jangan sampai usaha ketahanan pangan hanya berorientasi pada penyerapan modal dan pengadaan ternak, tetapi kurang memperhatikan keberlanjutan bisnis setelah usaha berjalan.

BUMKal perlu menempatkan usaha peternakan sebagai bisnis yang harus dikelola secara profesional, dengan perencanaan, pencatatan keuangan, pengendalian biaya, pengukuran kinerja dan strategi pemasaran yang jelas.

Terlebih apabila modal usaha berasal dari penyertaan modal kalurahan, maka setiap rupiah modal tersebut harus dikelola secara hati-hati dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kondisi kenaikan harga pakan dan tekanan harga telur saat ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan usaha BUMKal bukan hanya diukur dari berhasilnya membangun kandang atau memiliki ribuan ekor ayam dan bebek.

Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah apakah ternak produktif, biaya terkendali, telur terserap pasar, arus kas sehat, dan usaha mampu menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.

Dengan demikian, tantangan harga pakan dan telur tidak semata-mata menjadi persoalan peternakan, tetapi juga menjadi ujian bagi kapasitas manajemen BUMKal dalam mengelola usaha ketahanan pangan secara profesional dan berkelanjutan.

Posting Komentar

0 Komentar