Inovasi Kampung Keluarga Berkualitas Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang menjadi penting bagi masa depan keluarga, sejauh mana seorang ayah hadir dalam tumbuh kembang anaknya? Pertanyaan itu menjadi salah satu titik awal lahirnya Sekolah Ayah Jalu Mituhu di Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Sebuah inovasi yang berangkat dari kesadaran bahwa membangun keluarga berkualitas tidak cukup hanya dengan memperhatikan kesehatan ibu dan anak. Ayah juga harus hadir, belajar, terlibat, dan menjalankan perannya sebagai pendamping sekaligus teladan bagi anak.
Kalurahan Pacarejo merupakan wilayah perbukitan dengan luas sekitar 3.693 hektare dan terdiri atas 28 padukuhan. Sebagian besar masyarakat bekerja di sektor pertanian. Di tengah karakter wilayah yang luas tersebut, Pacarejo memiliki tantangan sekaligus potensi besar dalam membangun kualitas keluarga dan sumber daya manusia. Berdasarkan Pendataan Keluarga dan Pemutakhiran 2024, Pacarejo dihuni 16.581 jiwa dengan 5.736 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut terdapat sekitar 5.002 anak dan remaja usia 0–24 tahun. Jumlah yang besar ini menunjukkan bahwa kualitas pengasuhan menjadi bagian penting dalam pembangunan keluarga di Pacarejo.
Besarnya jumlah anak dan remaja di Pacarejo membawa konsekuensi bahwa keluarga membutuhkan pola pengasuhan yang baik. Anak tidak hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga membutuhkan perhatian, pendampingan, perlindungan, komunikasi dan keteladanan dari kedua orang tuanya. Kehadiran seorang ayah dalam satu keluarga sangat penting. Ayah diharapkan tidak hanya diposisikan sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendamping, pelindung, dan teladan dalam proses tumbuh kembang anak. Karena itu, Pemerintah Kalurahan Pacarejo memberikan dukungan terhadap Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Dari sinilah gagasan Sekolah Ayah Jalu Mituhu dikembangkan.
Nama tersebut dipilih dengan membawa nilai lokal. “Jalu” melambangkan sosok laki-laki atau ayah yang kuat dan kokoh. Sementara “Mituhu” mencerminkan sifat setia, patuh pada amanah, dan bertanggung jawab dalam menjalankan peran. Sekolah Ayah Jalu Mituhu kemudian diluncurkan pada 23 Juli 2025. Nama itu sekaligus menjadi pesan sederhana bahwa menjadi ayah bukan sekadar status, tetapi amanah yang harus dijalankan dengan kesetiaan dan tanggung jawab.
Mengapa Harus Sekolah Ayah?
Gagasan Sekolah Ayah Jalu Mituhu bukan sekadar membuat kegiatan pelatihan bagi para ayah. Lebih dari itu, kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar untuk meningkatkan literasi pengasuhan. Tujuan utamanya adalah memberikan pemahaman bahwa pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu. Program ini juga diarahkan untuk mendorong keterlibatan ayah dalam interaksi sehari-hari bersama anak serta memperkuat pemahaman para kepala padukuhan mengenai GATI dan keayahan.
Pilihan peserta juga menjadi bagian penting dari inovasi ini. Sekolah Ayah Jalu Mituhu tidak langsung mengumpulkan ribuan orang tua dari seluruh Pacarejo. Sebaliknya, program memilih 28 Kepala Padukuhan atau Dukuh sebagai peserta. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Dukuh merupakan tokoh yang dekat dengan masyarakat dan didengar oleh warga. Dengan menjadikan Dukuh sebagai warga belajar, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang kelas. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diteruskan kepada masyarakat di masing-masing padukuhan. Inilah yang kemudian disebut dalam presentasi sebagai strategi “multiplayer effect”: satu orang belajar, kemudian pengetahuannya dibagikan kepada banyak orang.
Dukuh sebagai Agen Perubahan
Model ini menjadi salah satu kekuatan utama Jalu Mituhu. Pacarejo memiliki 28 padukuhan. Karena itu, melatih 28 Dukuh berarti membangun jaringan agen perubahan yang tersebar di seluruh wilayah kalurahan. Harapannya sederhana. Tidak perlu menunggu semua ayah datang ke satu tempat untuk mendapatkan pengetahuan tentang pengasuhan. Materi yang telah dipelajari oleh Dukuh dibawa kembali ke lingkungan masing-masing.
Dengan cara tersebut, program pengasuhan ayah dapat masuk ke ruang-ruang pertemuan yang sudah hidup di masyarakat, seperti pertemuan padukuhan, pertemuan RT atau selapanan, arisan bapak-bapak, dan jamaah pengajian. Dengan kata lain, ruang belajar tidak berhenti di kelas. Masyarakat menjadi ruang belajar berikutnya. Sekolah Ayah Jalu Mituhu juga menunjukkan bahwa inovasi kalurahan tidak selalu harus dikerjakan sendiri oleh pemerintah kalurahan.
Dalam proses penyusunannya, Kampung KB Kalurahan Pacarejo berkolaborasi dengan sejumlah pihak, antara lain KOMPAK TENAN “Rumah Besar Semanu”, Tim Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Penyuluh KB Kapanewon Semanu, dan Perwakilan BKKBN DIY. Proses penyusunan materi dimulai dengan melihat profil anak dan remaja Pacarejo. Tim kemudian mendiskusikan konsep dan nama sekolah, menyusun rancangan kurikulum, serta melakukan pembahasan dan uji terhadap materi sebelum digunakan.
Proses penyusunan dan pengujian kurikulum tersebut berlangsung pada 22 Mei sampai 20 Juli 2025. Cara ini menunjukkan satu hal penting yaitu inovasi yang baik tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari masalah nyata, kemudian dicari jalan keluarnya secara bersama-sama.
Belajar Apa di Sekolah Ayah Jalu Mituhu?
Materi yang diberikan tidak hanya berbicara tentang bagaimana menjadi ayah yang baik. Kurikulumnya cukup luas dan menyentuh berbagai persoalan yang dihadapi keluarga. Pada tahap pembelajaran, peserta mendapatkan materi mengenai:
- GATI dan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan;
- ayah sebagai support system bagi ibu;
- stunting dan peran ayah dalam pemenuhan gizi serta kesehatan keluarga;
- peran ayah dalam tumbuh kembang anak;
- ayah sebagai pencipta lingkungan dan keluarga sehat;
- kesehatan mental anak dan remaja;
- pengasuhan positif;
- regulasi emosi;
- pengasuhan di era digital;
- pengasuhan seimbang dan pembentukan karakter anak;
- komunikasi efektif dan manajemen konflik; serta
- penyusunan rencana tindak lanjut atau RTL.
Materi tersebut menunjukkan bahwa menjadi ayah pada masa sekarang membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Ayah juga perlu memahami bagaimana berkomunikasi dengan anak, bagaimana mendampingi ibu, bagaimana menghadapi perkembangan teknologi, bagaimana menjaga kesehatan keluarga, dan bagaimana membantu anak menghadapi persoalan emosionalnya.
Dari Komitmen Menuju Pembelajaran
Pelaksanaan Sekolah Ayah Jalu Mituhu dilakukan secara bertahap. Tahapannya dimulai dari penggalangan komitmen, koordinasi, pembuatan dan uji publik materi, launching, pembukaan kelas dan pembelajaran perdana, pembelajaran sesuai materi, hingga aplikasi materi kepada masyarakat. Komitmen antara Kampung KB dan Pemerintah Kalurahan Pacarejo telah dibangun melalui kegiatan Desa/Kalurahan Ayah Teladan atau DEKAT pada Mei 2025.
Pemerintah Kalurahan Pacarejo memberikan dukungan terhadap prog ram GATI dan memfasilitasi edukasi bagi perangkat dan pamong kalurahan. Para Dukuh juga didorong untuk meneruskan sosialisasi mengenai pentingnya pengasuhan anak oleh ayah di wilayah masing-masing. Setelah melalui proses persiapan, Sekolah Ayah Jalu Mituhu diluncurkan pada 23 Juli 2025.
Kemudian pada 4 September 2025, kelas dan pembelajaran perdana dilaksanakan di Pendopo Kalurahan Pacarejo. Kegiatan diawali dengan penandatanganan komitmen bersama dan kontrak belajar, dilanjutkan dengan materi tentang pola asuh dan fatherless dari Fakultas Psikologi UGM serta post-test untuk mengukur pemahaman warga belajar. Selanjutnya, para Dukuh mengikuti pembelajaran Sekolah Ayah selama satu semester, yaitu periode September 2025 sampai Maret 2026.
Dari Ruang Kelas ke Rumah-Rumah Warga
Bagian yang paling menarik dari Jalu Mituhu justru terjadi setelah proses pembelajaran. Para Dukuh tidak berhenti sebagai peserta pelatihan. Setelah mendapatkan materi, mereka membawa pengetahuan tersebut ke masyarakat. Sosialisasi dan edukasi GATI dilakukan melalui berbagai ruang pertemuan masyarakat, seperti pertemuan padukuhan, pertemuan RT atau selapanan, arisan bapak-bapak, maupun jamaah pengajian.
Dengan demikian, pola inovasinya dapat digambarkan secara sederhana yaitu dari "belajar, memahami, mempraktikkan, berbagi, dan menjangkau masyarakat. Inilah yang membuat Jalu Mituhu tidak hanya menjadi sebuah kegiatan pelatihan, tetapi menjadi sebuah mekanisme penyebaran pengetahuan pengasuhan berbasis struktur sosial yang sudah ada di kalurahan.
Pelaksanaan Sekolah Ayah Jalu Mituhu melibatkan 28 Kepala Padukuhan di seluruh wilayah Kalurahan Pacarejo selama satu semester. Para dukuh kemudian berkomitmen memastikan seluruh wilayah Pacarejo tersentuh literasi mengenai pengasuhan ayah dan program GATI. Dengan jumlah 5.736 kepala keluarga, strategi ini memiliki potensi jangkauan yang luas. Sasaran akhirnya adalah memberikan pengaruh positif terhadap perlindungan dan pengasuhan bagi 5.002 anak dan remaja di Pacarejo.
Selain itu, saat ini telah tersusun modul atau kurikulum Sekolah Ayah yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan Fakultas Psikologi UGM, KOMPAK TENAN, dan Perwakilan BKKBN DIY. Materi tersebut juga disebut memiliki potensi untuk dimanfaatkan oleh wilayah lain.
Salah satu tanda bahwa sebuah gagasan mulai mendapatkan perhatian adalah ketika gagasan tersebut dipelajari dan dikembangkan oleh wilayah lain. Presentasi Kampung KB Pacarejo mencatat adanya beberapa wilayah yang melakukan studi dan kemudian mereplikasi Sekolah Ayah, antara lain:
- Sekolah Ayah TUMARITIS di Kalurahan Kedungkeris, Kapanewon Nglipar;
- Sekolah Ayah NARENDRA di Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin;
- Sekolah Ayah GADJAH MADA di Kalurahan Sabdodadi, Kabupaten Bantul; dan
- Sekolah Ayah PANDU di Kalurahan Sinduharjo, Kabupaten Sleman.
Hal ini memperlihatkan bahwa inovasi kalurahan tidak selalu harus berhenti menjadi milik satu kalurahan. Ketika sebuah praktik terdokumentasi dengan baik dan dapat dipahami oleh orang lain, ia memiliki peluang untuk dikembangkan di tempat lain.
Jalu Mituhu dan Masa Depan Keluarga Pacarejo
Jalu Mituhu pada dasarnya adalah sebuah gagasan yang sederhana yang bertujuan mengajak ayah untuk belajar kembali tentang perannya dalam keluarga. Namun, cara Pacarejo menjalankannya membuat gagasan tersebut menjadi lebih sistematis. Pacarejo tidak mencoba menjangkau semua orang sekaligus. Pacarejo memilih 28 Dukuh sebagai pintu masuk. Mereka belajar bersama, mendapatkan materi, menyusun rencana tindak lanjut, kemudian membawa pengetahuan tersebut ke masyarakat.
Di sinilah kekuatan inovasinya. Satu Dukuh dapat menjadi pintu masuk bagi banyak keluarga. Satu pembelajaran dapat diteruskan kepada banyak ayah. Dan keterlibatan lebih banyak ayah diharapkan dapat memperkuat lingkungan tumbuh kembang anak. Pada akhirnya, pembangunan keluarga berkualitas memang tidak hanya berbicara tentang program dan kegiatan. Ia berbicara tentang perubahan kebiasaan di dalam keluarga. Ayah yang lebih hadir. Ibu yang mendapatkan dukungan. Anak yang mendapatkan pendampingan. Dan masyarakat yang semakin peduli terhadap tumbuh kembang generasi berikutnya.
Dari Pacarejo untuk Pembelajaran Bersama
Kalurahan Pacarejo memiliki visi “Mewujudkan Pacarejo yang Berkemajuan”. Visi tersebut antara lain diterjemahkan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, peningkatan kualitas pelayanan, penguatan pendidikan dan kesehatan, serta pemanfaatan teknologi informasi. Sekolah Ayah Jalu Mituhu dapat dilihat sebagai salah satu cara untuk menerjemahkan semangat tersebut ke dalam kehidupan keluarga.
Sebab, kemajuan kalurahan pada akhirnya bukan hanya tentang jalan yang semakin baik, pelayanan yang semakin cepat, atau pembangunan fisik yang semakin banyak. Kemajuan juga ditentukan oleh kualitas manusia yang hidup di dalamnya. Dan kualitas manusia itu dibentuk sejak dari keluarga. Karena itu, pesan Jalu Mituhu sebenarnya sangat sederhana. Menjadi ayah adalah amanah. Untuk menjalankan amanah itu dengan baik, seorang ayah juga perlu terus belajar.
Dari Pacarejo, pembelajaran itu dimulai dari 28 Dukuh. Dari para Dukuh, pengetahuan bergerak menuju masyarakat. Dan dari keluarga-keluarga itulah harapan tentang generasi Pacarejo yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih berkualitas dibangun. Jadi Jalu Mituhu bukan sekadar Sekolah Ayah. Ia adalah upaya Pacarejo untuk menghidupkan kembali peran ayah di tengah keluarga, dari ruang belajar menuju kehidupan sehari-hari.
https://www.instagram.com/jalumituhu/
ki-slamet, espede, esha (tapm gunungkidul)
0 Komentar