Bukan
Sekadar Berburu Cuan: BUMDes Maju Mandiri Pulutan Buktikan Ekonomi Desa Tumbuh
Bersama Warga
WONOSARI, GUNUNGKIDUL – Di tengah
maraknya pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang berfokus penuh pada
mengejar angka keuntungan materiil, BUMDes Maju Mandiri Kalurahan Pulutan,
Kapanewon Wonosari, justru mengambil jalur yang menginspirasi. Lewat filosofi
pemberdayaan, lembaga usaha desa ini berhasil membuktikan bahwa profits dan
manfaat sosial bagi masyarakat lokal bisa berjalan beriringan tanpa harus
saling mengorbankan.
Langkah ini bukan sekadar wacana
manis di atas kertas. Berkat tata kelola yang inklusif dan membumi, BUMDes Maju
Mandiri mampu menyumbang Pendapatan Asli Desa (PAD) lebih dari Rp100 juta per
tahun untuk Kalurahan Pulutan ujar Matheus Danang Nugraha Wakil Direktur BUMDes
Maju Mandiri Pulutan Wonosari
Diversifikasi Usaha yang Membumi
dan Strategis
Keberhasilan BUMDes Maju Mandiri
tidak lepas dari kejelian menggarap potensi lokal. Saat ini, terdapat empat
pilar bisnis utama yang dikelola secara profesional:
1.
Penyediaan Air Minum Desa (PAMDes): Menjamin
akses air bersih yang terjangkau bagi warga.
2.
Kemitraan Ketahanan Pangan: Pengembangan
budidaya pertanian buah melon yang produktif.
3.
Jasa Persewaan Sewa Tenda & Kursi: Melayani
kebutuhan hajatan dan kegiatan warga secara fleksibel.
4.
Wisata Lembah Desa Pulutan: Destinasi wisata
keluarga berbasis lanskap pedesaan yang menjadi ikon utama pemberdayaan.
Keunikan "Segelas Teh
Poci": Simbol Skema Bagi Hasil Adil
Salah satu daya tarik paling unik
di kawasan Wisata Lembah Desa Pulutan terletak pada konsep pelayanan
pengunjungnya. Dengan harga tiket masuk yang sangat terjangkau—hanya Rp5.000
per orang—pengunjung sudah mendapatkan fasilitas berupa sajian teh poci hangat.
Di balik segelas teh poci
tersebut, tersimpan skema pemberdayaan ekonomi yang matang:
1.
Sistem Bergiliran: Penyediaan teh poci
dipercayakan kepada 25 kios usaha yang dikelola sepenuhnya oleh masyarakat
setempat secara bergantian.
2.
Pembagian Hasil 50:50: Hasil dari tiket masuk
dibagi rata—50% masuk ke kas BUMDes untuk operasional dan retribusi, sementara
50% sisanya menjadi hak langsung pedagang penyedia teh poci.
3.
Multieffect Economy: Pedagang tidak hanya
mendapat bagian dari tiket, tetapi juga meraih keuntungan bersih dari penjualan
makanan dan minuman pendamping bagi para wisatawan. Sementara itu, BUMDes
memperkuat pendapatannya melalui retribusi parkir kendaraan pengunjung.
Kuncinya adalah rasa memiliki.
Ketika warga merasa ini adalah lapak bersama, mereka akan menjaga kualitas
pelayanan dan keramahan kepada setiap tamu yang datang.
Magnet Wisata Keluarga dan
Swadaya Hiburan
Dengan rata-rata kunjungan
mencapai 30.000 orang per bulan, Lembah Desa Pulutan menjadi pilihan favorit
rekreasi keluarga yang murah meriah sekaligus tempat ideal untuk acara
pertemuan warga maupun komunitas.
Atmosphere hangat semakin terasa
pada hari libur dan akhir pekan. Tanpa menggantungkan anggaran BUMDes, para pemilik
kios secara berswadaya mendanai pertunjukan Live Music. Kemeriahan panggung
hiburan ini dihidupkan dari kolaborasi antara inisiatif pedagang dan
pundi-pundi saweran sukarela pengunjung yang membuat suasana rekreasi semakin
betah dan berkesan.
Cetak Biru Kemandirian Desa
BUMDes Maju Mandiri Pulutan
memberikan pelajaran berharga bahwa tolok ukur suksesnya BUMDes tidak hanya
dilihat dari seberapa besar angka saldo di rekening bank, tetapi seberapa
banyak dapur warga sekitar yang ikut ngebul.
Melalui kolaborasi harmonis
antara pengelola desa dan masyarakat, Pulutan menunjukkan bahwa kemandirian
ekonomi desa sejati lahir ketika warga tidak hanya menjadi penonton, melainkan
pelaku utama roda perekonomian mereka sendiri. (TGS)

0 Komentar