Belajar Akuntansi dengan Lima Jari, Aris Nurkholis Permudah Pengelola BUMKal Memahami Debit dan Kredit



P3MD Gunungkidul - Belajar akuntansi tidak harus selalu dimulai dengan angka, tabel, dan rumus yang rumit. Lima jari tangan pun dapat menjadi media pembelajaran sederhana untuk memahami konsep dasar akuntansi, khususnya dalam menentukan posisi debit dan kredit pada pencatatan transaksi keuangan.

Metode unik tersebut diperkenalkan oleh Aris Nurkholis, M.Pd., narasumber dari Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Gunungkidul, dalam kegiatan Forum BUMKal se-Kapanewon Panggang yang diinisiasi oleh Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kapanewon Panggang. Kegiatan berlangsung pada Senin (12/10/2026) di Rest Area Bantar Angin.

Kegiatan ini diikuti oleh para bendahara BUMKal se-Kapanewon Panggang, Pendamping Desa (PD), dan Pendamping Lokal Desa (PLD) Kapanewon Panggang. Forum tersebut menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat kapasitas pengelola, khususnya dalam pencatatan transaksi dan penyusunan laporan keuangan BUMKal.

Melalui pendekatan lima jari tangan, Aris mengajak peserta memahami lima unsur utama akuntansi, yakni aset, utang, modal, pendapatan, dan beban. Metode ini membuat konsep yang kerap dianggap rumit menjadi lebih sederhana, praktis, dan mudah diingat.

Lima Jari, Lima Unsur Akuntansi 

Dalam metode yang diperkenalkan Aris, setiap jari memiliki makna tersendiri. Jempol melambangkan aset, telunjuk melambangkan utang, jari tengah melambangkan modal, jari manis melambangkan pendapatan, sedangkan kelingking melambangkan beban.

Aris memperagakan cara mengingatnya dengan mengangkat jempol dan kelingking, sementara telunjuk, jari tengah, dan jari manis dilipat. Dua jari yang berdiri menjadi penanda bahwa aset dan beban bertambah dicatat di sisi debit.

Sebaliknya, tiga jari yang dilipat mengingatkan bahwa utang, modal, dan pendapatan bertambah dicatat di sisi kredit.

“Akuntansi itu sebenarnya bisa dipelajari dengan cara sederhana. Kita gunakan lima jari tangan sebagai alat bantu untuk mengingat posisi akun. Jempol untuk aset, telunjuk untuk utang, jari tengah untuk modal, jari manis untuk pendapatan, dan kelingking untuk beban. Ketika aset dan beban bertambah, pencatatannya di debit. Sementara utang, modal, dan pendapatan bertambah dicatat di kredit,” jelas Aris dalam pemaparan materinya.

Menurutnya, metode tersebut bukan sekadar cara menghafal, tetapi menjadi pintu masuk untuk memahami logika pencatatan akuntansi. Dengan memahami karakter setiap akun, bendahara BUMKal diharapkan lebih percaya diri ketika mencatat transaksi keuangan sehari-hari.

Aris juga mengingatkan bahwa debit dan kredit bukan berarti uang masuk dan uang keluar. Keduanya merupakan posisi pencatatan dalam sistem akuntansi yang ditentukan oleh jenis akun dan perubahan yang terjadi.

Filosofi Lima Jari: Beban Harus Terkendali 

Pembelajaran tidak berhenti pada teknik mengingat debit dan kredit. Aris juga mengajak peserta memahami filosofi yang terkandung dalam bentuk dan ukuran jari tangan.

Salah satu contohnya adalah perbandingan antara jari manis dan kelingking. Jari manis yang melambangkan pendapatan umumnya lebih besar daripada kelingking yang melambangkan beban.

“Kalau kita melihat jari tangan, kelingking selalu lebih kecil dibandingkan jari manis. Ini bisa menjadi pengingat bagi pengelola BUMKal bahwa beban harus dijaga agar tidak lebih besar daripada pendapatan. Usaha yang sehat bukan hanya mampu menghasilkan penjualan, tetapi juga harus mampu mengendalikan biaya agar memperoleh keuntungan,” ungkap Aris.

Ia menambahkan, pengelola BUMKal perlu memahami hubungan antara pendapatan, beban, dan laba. Pendapatan yang besar belum tentu menjamin usaha menghasilkan keuntungan apabila biaya operasional tidak dikendalikan.

Karena itu, pencatatan keuangan yang tertib menjadi instrumen penting untuk mengetahui kondisi usaha secara nyata, mengevaluasi kinerja, dan menentukan langkah pengembangan bisnis.

Mendorong Pencatatan Keuangan Berbasis Akrual 

Materi tersebut juga dikaitkan dengan penerapan pencatatan transaksi keuangan berbasis akrual sebagaimana diatur dalam Kepmendesa PDTT Nomor 136 Tahun 2022 tentang Panduan Penyusunan Laporan Keuangan BUM Desa.

Dalam basis akrual, transaksi diakui ketika hak atau kewajiban ekonomi timbul, bukan semata-mata ketika uang diterima atau dibayarkan. Dengan demikian, pencatatan keuangan harus menggambarkan kondisi ekonomi usaha secara lebih utuh.

Sebagai contoh, penjualan secara kredit dapat menimbulkan pendapatan dan piutang meskipun pembayaran belum diterima. Demikian pula, beban yang sudah terjadi perlu dicatat sesuai periode terjadinya meskipun pembayarannya dilakukan kemudian.

Aris menekankan pentingnya pemahaman tersebut bagi para bendahara BUMKal agar pencatatan tidak hanya berorientasi pada kas masuk dan kas keluar.

“Bendahara BUMKal perlu memahami bahwa laporan keuangan bukan sekadar catatan uang yang diterima dan dibayarkan. Setiap transaksi harus dicatat sesuai jenis akun dan waktu terjadinya. Dengan pencatatan berbasis akrual, kondisi aset, kewajiban, pendapatan, dan beban usaha dapat tergambarkan dengan lebih baik,” tegasnya.

Forum BUMKal, Ruang Belajar dan Berbenah 

Melalui forum ini, para bendahara BUMKal se-Kapanewon Panggang diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih kuat mengenai dasar-dasar akuntansi dan penerapannya dalam pengelolaan usaha. Sementara itu, keikutsertaan PD dan PLD menjadi bagian dari penguatan sinergi pendampingan agar proses pembenahan tata kelola keuangan dapat terus didorong di tingkat kalurahan.

Inisiatif TPP Kapanewon Panggang dalam menyelenggarakan forum ini menunjukkan pentingnya pembelajaran berkelanjutan bagi pengelola BUMKal. Pendekatan sederhana seperti metode lima jari dapat menjadi awal untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam mengenai akuntansi.

Pada akhirnya, kemampuan menyusun laporan keuangan bukan hanya persoalan memenuhi kewajiban administrasi. Lebih dari itu, laporan keuangan merupakan dasar untuk menilai kinerja, menjaga akuntabilitas, mengendalikan biaya, dan mengambil keputusan bisnis.

Dengan pengelola yang semakin memahami akuntansi, BUMKal diharapkan mampu tumbuh menjadi lembaga ekonomi kalurahan yang lebih profesional, transparan, dan berkelanjutan. (ANK)

Posting Komentar

0 Komentar