SATU DATA PACAREJO, FONDASI BARU REFORMASI KALURAHAN

 

Oleh: Suhadi, SAP – Lurah Pacarejo

Berapa sebenarnya jumlah warga miskin di sebuah kalurahan? Pertanyaan ini terlihat sederhana. Namun, ketika angka tersebut akan digunakan untuk menentukan siapa yang harus mendapatkan program, berapa anggaran yang dibutuhkan, dan intervensi apa yang paling tepat, jawabannya tidak lagi sesederhana sebuah angka. Angka kemiskinan, misalnya, tentu penting. Tetapi Pemerintah Kalurahan juga perlu mengetahui: siapa yang dihitung, dengan indikator apa, kapan datanya dikumpulkan, bagaimana metode pengukurannya, dan untuk kebutuhan apa data tersebut digunakan.

Perbedaan angka tidak selalu berarti salah satu pihak keliru. Bisa jadi definisi, periode, metode, cakupan, atau tujuan penggunaannya memang berbeda. Di sinilah kami melihat pentingnya daulat data bagi Kalurahan.

Bagi kami di Kalurahan Pacarejo, daulat data bukan berarti Kalurahan harus membuat seluruh data sendiri atau menolak data dari pemerintah di atasnya. Justru sebaliknya. Data dari kementerian/lembaga, Pemerintah Daerah DIY, maupun Pemerintah Kabupaten tetap penting. Namun Kalurahan perlu memiliki kemampuan untuk memahami data tersebut, mengetahui asal-usulnya, melihat keterbatasannya, membandingkannya dengan kondisi nyata di lapangan, serta melengkapinya jika diperlukan. Tidak menolak data, tetapi juga tidak menelannya mentah-mentah. Itulah salah satu gagasan yang melandasi inovasi Satu Data Kalurahan Pacarejo.

Bukan Sekadar Mengumpulkan Data

Reformasi Kalurahan pada dasarnya bukan hanya soal perubahan administrasi pemerintahan. Reformasi harus membuat Kalurahan semakin mampu mengenali dirinya, memahami persoalannya, mengelola potensinya, dan memberikan pelayanan serta pembangunan yang lebih baik bagi masyarakat. Untuk melakukan itu, Kalurahan membutuhkan informasi yang dapat dipercaya. Kita perlu mengetahui siapa masyarakat kita, bagaimana kondisi sosial dan ekonominya, apa potensi wilayahnya, persoalan apa yang sedang dihadapi, bagaimana kondisi pelayanan dasar, program apa yang sudah dilakukan, siapa penerima manfaatnya, dan perubahan apa yang terjadi setelah program dilaksanakan.

Karena itu, data tidak semestinya berhenti sebagai dokumen administrasi, bahan laporan, atau sekadar angka yang disimpan dalam komputer. Data harus menjadi alat untuk mengambil keputusan. Dari sinilah Satu Data Kalurahan Pacarejo dirancang. Bukan untuk membuat aplikasi sebanyak-banyaknya. Bukan pula untuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya. Tujuannya lebih sederhana sekaligus lebih penting: membangun tata kelola data agar Kalurahan mampu mengenali kondisi dirinya dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengambil keputusan yang lebih tepat.

Gunakan, Lengkapi, Verifikasi

Salah satu prinsip yang kami pegang adalah “Gunakan, Lengkapi, dan Verifikasi.” Kalau data sudah tersedia dan masih relevan, mengapa harus mendata ulang? Kalau ada data yang belum tersedia atau belum cukup untuk menjawab kebutuhan Kalurahan, barulah dilengkapi. Dan apabila terdapat data yang perlu dipastikan kebenarannya, dilakukan pemeriksaan atau verifikasi. Cara kerja seperti ini penting agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi objek pendataan. Satu data yang dikumpulkan dengan benar seharusnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sesuai kewenangan. Prinsipnya adalah “Pendataan Sekali, Pemanfaatan Berkali-kali.”

Dengan cara ini, Kalurahan tidak perlu membangun semuanya dari nol. Data dari berbagai sumber dapat menjadi kekayaan bersama yang saling melengkapi. Data dari Padukuhan, RT, kader, kelompok masyarakat, lembaga Kalurahan, BUMKal, sekolah, fasilitas kesehatan, Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Daerah DIY, kementerian/lembaga, perguruan tinggi maupun mitra lainnya dapat dipetakan dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan dan kewenangannya.

Membangun “Rumah” bagi Data

Masalah data sering kali bukan karena tidak ada data. Justru sebaliknya, data tersedia di banyak tempat, tetapi tersebar dan tidak selalu mudah ditemukan. Karena itu, Pacarejo menggagas Rumah Data Pacarejo. Rumah Data tidak harus dipahami hanya sebagai sebuah ruangan yang dipenuhi komputer. Yang lebih penting adalah sistem kerja di dalamnya: bagaimana data dikumpulkan, disimpan, diperiksa, diperbarui, diintegrasikan, dan disajikan.

Di dalam ekosistem tersebut, Pacarejo juga akan membangun Data Induk Kalurahan. Data induk menjadi fondasi yang menghubungkan berbagai informasi tentang penduduk dan keluarga, wilayah, sosial, ekonomi, pelayanan dasar, pembangunan, kelembagaan, lingkungan, program, hingga potensi Kalurahan. Prinsipnya sederhana yaitu "satu identitas, banyak informasi". Artinya, ketika kita membutuhkan informasi tentang sebuah keluarga atau wilayah, informasi yang relevan dapat dihubungkan tanpa harus selalu melakukan pendataan dari awal.

Ketika Data Berbeda, Jangan Terburu-buru Menyalahkan

Dalam praktiknya, sangat mungkin Kalurahan menemukan perbedaan antara data yang dimilikinya dengan data dari lembaga lain. Apa yang harus dilakukan? Bukan langsung mengatakan data yang satu benar dan yang lain salah. Perbedaan perlu dilihat dari sumber, definisi, periode, cakupan, metode, kelengkapan, dan tujuan penggunaan. Dengan pendekatan tersebut, Kalurahan belajar bahwa satu kondisi bisa memiliki beberapa angka karena diukur menggunakan konsep yang berbeda.

Data yang baik bukanlah data yang dianggap selalu benar. Data yang baik adalah data yang jelas sumbernya, diketahui prosesnya, dipahami kualitasnya, dapat diverifikasi, dan terbuka untuk diperbaiki. Cara pandang ini penting untuk membangun budaya pemerintahan yang sehat. Sebab, tujuan kita bukan memenangkan perdebatan tentang angka. Tujuannya adalah menemukan informasi yang paling berguna untuk mengambil keputusan.

Data Tidak Menggantikan Musyawarah

Ada kekhawatiran bahwa ketika pemerintahan semakin berbasis data, masyarakat dan musyawarah akan kehilangan tempat. Kami justru berpandangan sebaliknya. Data tidak menggantikan musyawarah. Data memberikan bukti. Masyarakat memberikan pengalaman, perspektif, aspirasi, dan pengetahuan lokal. Musyawarah kemudian menjadi ruang untuk mempertimbangkan semuanya sebelum menghasilkan keputusan. Karena itu, data seharusnya bukan dicari untuk membenarkan keputusan yang sudah dibuat.

Data harus digunakan untuk memperbaiki keputusan. Inilah yang kami harapkan dari Satu Data Pacarejo. Data harus mengalir dari meja administrasi menuju proses perencanaan dan akhirnya menjadi tindakan nyata. Data menunjukkan kondisi. Kondisi dianalisis. Masalah dan potensi diidentifikasi. Prioritas ditentukan. Perencanaan disusun. Anggaran dialokasikan. Program dilaksanakan. Hasilnya diukur. Setelah itu data kembali diperbarui. Siklus tersebut terus berputar.

Dari Data yang Tersimpan Menjadi “Data yang Berbicara”

Ke depan, kami ingin Satu Data Pacarejo berkembang lebih jauh. Data jangan hanya disimpan. Data harus “berbicara”. Tentu bukan dalam arti harfiah. Data berbicara ketika melalui analisis ia mampu menunjukkan perubahan, kecenderungan, kesenjangan, persoalan, maupun potensi yang sebelumnya mungkin tidak terlihat. Misalnya, perubahan jumlah keluarga rentan, perkembangan usaha masyarakat, kondisi infrastruktur, perkembangan sektor pertanian, pelayanan dasar, atau capaian suatu program dapat menjadi sinyal bagi pemerintah untuk segera melihat apa yang sedang terjadi.

Tetapi tetap ada satu prinsip penting adalah "data memberikan sinyal, manusia melakukan verifikasi dan mengambil keputusan". Data tidak menggantikan manusia. Data membantu manusia melihat persoalan dengan lebih jernih. Dengan cara itu, data bukan hanya menjadi arsip masa lalu, tetapi menjadi alat untuk membaca masa depan.

Dari Perkiraan Menuju Bukti

Pada akhirnya, keberhasilan Satu Data Pacarejo tidak akan diukur dari seberapa canggih aplikasinya atau seberapa banyak data yang berhasil dikumpulkan. Ukuran keberhasilannya adalah perubahan. Perubahan ini dapat diketahui dari jawaban atas pertanyaan: 1) Apakah pemerintah semakin memahami kondisi masyarakat?; 2) Apakah program semakin tepat sasaran?; 3) Apakah anggaran semakin sesuai kebutuhan?; 4) Apakah pendataan berulang dapat dikurangi?; 5) Apakah masyarakat memperoleh pelayanan yang lebih baik?; serta 6) Apakah hasil pembangunan dapat diukur? Dan yang tidak kalah penting, apakah Kalurahan semakin mampu belajar dari apa yang sudah dikerjakannya?

Satu Data diharapkan mendorong perubahan budaya kerja: dari perkiraan menuju bukti, dari data yang tersebar menuju data yang terhubung, dari sekadar mengumpulkan menuju menggunakan, dan dari keputusan berdasarkan kebiasaan menuju keputusan yang semakin terukur.

Daulat Data untuk Reformasi Kalurahan

Satu Data Pacarejo akan dibangun secara bertahap. Dimulai dari pemetaan data yang sudah ada, pemetaan sumber data, penetapan data prioritas, penyusunan standar, pembangunan Data Induk, validasi dan verifikasi, hingga integrasi dengan proses perencanaan Kalurahan. Setelah fondasinya kuat, barulah dikembangkan penyajian informasi melalui Dashboard “Pacarejo Dalam Data”, analisis kondisi dan potensi, penetapan sasaran program, monitoring, evaluasi, serta penyediaan informasi publik.

Prinsip kami sederhana "mulai kecil, gunakan segera, evaluasi, perbaiki, lalu kembangkan". Teknologi bukan tujuan. Aplikasi dan dashboard hanyalah alat. Yang paling penting adalah sistem kerja dan budaya menggunakan data. Pada akhirnya, kami ingin Satu Data Pacarejo menjadi lebih dari sekadar sistem administrasi. Ia adalah upaya membangun kemampuan Kalurahan untuk mengenali dirinya sendiri.

Kalurahan yang mengetahui kondisi masyarakatnya akan lebih mudah menentukan prioritas. Kalurahan yang memahami datanya akan lebih mampu mempertanggungjawabkan keputusan. Kalurahan yang mampu memperbarui datanya akan lebih siap menghadapi perubahan. Karena itu, bagi kami, daulat data bukan berarti Kalurahan harus membuat semua data sendiri. Daulat data berarti Kalurahan mampu mengenali, memahami, memverifikasi, mengelola, dan menggunakan data tentang dirinya untuk menentukan masa depannya. Sebab, Reformasi Kalurahan pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana pemerintah bekerja, tetapi tentang bagaimana keputusan pemerintah benar-benar membawa perubahan bagi masyarakat.

Dan untuk membuat keputusan yang baik, kita perlu mengenali kenyataan dengan baik. Pacarejo mengenali dirinya melalui data, memahami dirinya melalui analisis, membangun dirinya melalui keputusan yang tepat, dan memperbaiki masa depannya melalui pembelajaran dari data. Itulah semangat Satu Data Kalurahan Pacarejo.


Pacarejo, 10 September 2026

Posting Komentar

0 Komentar