Dari 'Mumet' Menjadi Paham: Bimbingan Teknis Pengelolaan Keuangan BUM Desa Tingkatkan Kompetensi Pendamping



P3MD Gunungkidul – Kalimat sederhana bertuliskan "Mumet" yang ditulis salah seorang peserta pada lembar evaluasi pelatihan justru menjadi gambaran menarik dari perjalanan belajar para Tenaga Pendamping Profesional (TPP). Di awal pelatihan, penyusunan laporan keuangan BUM Desa dianggap rumit dan membingungkan. Namun setelah mengikuti rangkaian materi dan praktik, kebingungan tersebut perlahan berubah menjadi pemahaman yang utuh.

Suasana itulah yang mewarnai Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan dan Pelaporan Keuangan BUM Desa yang diselenggarakan oleh TAPM Kabupaten Gunungkidul yang bertempat di Balai Kalurahan Sambirejo, Kapanewon Ngawen, pada Kamis (25/6/2026). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Pendamping Desa (PD) dan Pendamping Lokal Desa (PLD) dari wilayah Kapanewon Nglipar, Ngawen, dan Semin.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Tim Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Gunungkidul, serta Murtodo, S.H., M.Pd., selaku Koordinator Provinsi Tenaga Pendamping Profesional (Korprov TPP) Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Murtodo menegaskan bahwa penguatan kapasitas pendamping merupakan investasi penting dalam meningkatkan kualitas tata kelola BUM Desa di tingkat kalurahan.

"Pendamping desa merupakan mitra strategis pemerintah desa. Ketika pendamping memahami tata kelola dan pelaporan keuangan BUM Desa dengan baik, maka proses pendampingan akan jauh lebih berkualitas. Harapannya, BUM Desa di DIY semakin profesional, sehat secara administrasi, dan mampu berkembang menjadi penggerak ekonomi desa," ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Koordinator Kabupaten TPP Gunungkidul, Hery Santoso, menyampaikan bahwa saat ini kebutuhan akan pendamping yang memahami akuntansi BUM Desa semakin besar.

"Banyak BUM Desa sudah mulai berkembang usahanya, namun masih menghadapi tantangan dalam penyusunan laporan keuangan. Oleh karena itu, pendamping harus mampu menjadi mitra belajar sekaligus memberikan solusi ketika pengurus BUM Desa mengalami kesulitan. Kompetensi ini menjadi bekal penting dalam pendampingan ke depan," ungkap Hery.

Pada kesempatan tersebut, Aris Nurkholis, M.Pd., selaku TAPM Kabupaten Gunungkidul sekaligus PIC BUM Kal, menjadi fasilitator utama. Dalam pemaparannya, Aris menjelaskan secara rinci mengenai kebijakan penyusunan laporan keuangan BUM Desa sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Desa PDTT Nomor 136 Tahun 2022.

Tidak hanya membahas regulasi, peserta juga diajak memahami konsep-konsep dasar akuntansi yang menjadi fondasi penyusunan laporan keuangan. Mulai dari persamaan akuntansi, pengenalan aset, kewajiban, modal, pendapatan, hingga beban dijelaskan secara sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami.

Menurut Aris, pemahaman terhadap prinsip-prinsip dasar akuntansi menjadi kunci agar laporan keuangan BUM Desa tidak sekadar selesai disusun, tetapi benar-benar mencerminkan kondisi usaha yang sebenarnya.

"Akuntansi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ketika kita memahami logikanya, penyusunan laporan keuangan menjadi jauh lebih mudah. Target saya sederhana, setelah mengikuti bimtek ini seluruh TPP sudah mampu mendampingi penyusunan laporan keuangan BUM Desa menggunakan prinsip-prinsip akuntansi yang benar," jelas Aris.

Materi kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik penyusunan laporan keuangan menggunakan Aplikasi Laporan Keuangan BUM Desa berbasis Microsoft Excel yang dikembangkan oleh Kementerian Desa PDT bekerja sama dengan PKN STAN.

Pada sesi ini, peserta tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi langsung mempraktikkan pencatatan transaksi hingga menghasilkan laporan keuangan. Aris mendampingi peserta satu per satu, menjelaskan setiap langkah secara perlahan agar seluruh peserta memahami alur pencatatan sesuai prinsip akuntansi.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Diskusi, tanya jawab, hingga praktik langsung membuat peserta semakin percaya diri dalam memahami materi yang sebelumnya dianggap sulit.

Hal tersebut tercermin dari berbagai kesan yang disampaikan peserta pada akhir kegiatan.

Cahyo Pramono, Pendamping Desa Kapanewon Ngawen, mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan pengalaman belajar yang luar biasa.

"Luar biasa. Pelajaran Akuntansi di SMK diajarkan selama 3 tahun, Tapi disini Pendamping hanya dilatih selama 6 jam, tetapi materi ini dapat membuka pemahaman saya. Terima kasih kepada narasumber yang menyampaikan materi dengan sangat baik."

Sementara itu, Widhi Prasastiyanto, PLD Kapanewon Semin, menuliskan satu kata sederhana yang cukup mewakili kondisi peserta di awal pelatihan.

"Mumet."

Namun, setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga praktik, kebingungan tersebut berubah menjadi pemahaman yang lebih baik.

Kesan positif juga disampaikan Kus Narwoko, PLD Kapanewon Nglipar.

"Kegiatan ini sangat bagus dan menambah wawasan pendamping, terutama dalam mendampingi penyusunan laporan keuangan BUM Desa."

Hal senada diungkapkan Sari Astuti, PLD Kapanewon Semin.

"Belajar akuntansi memang menyenangkan, dan menarik untuk terus dipelajari."

Sementara Eko Widodo, PLD Kapanewon Ngawen, mengaku memperoleh banyak materi baru yang sangat bermanfaat untuk mendukung tugas pendampingan.

Berbagai testimoni tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik mampu meningkatkan pemahaman peserta. Apa yang semula terasa rumit kini menjadi lebih mudah dipahami karena peserta diajak belajar melalui contoh kasus nyata dan praktik langsung.

Melalui Bimbingan Teknis ini, diharapkan seluruh Tenaga Pendamping Profesional semakin siap mendampingi pengurus BUM Desa dalam menyusun laporan keuangan yang sesuai dengan ketentuan, transparan, akuntabel, serta mampu mendukung terwujudnya tata kelola BUM Desa yang profesional dan berkelanjutan.

Bimtek ini sekaligus menjadi bukti bahwa peningkatan kapasitas pendamping merupakan investasi penting dalam memperkuat tata kelola ekonomi kalurahan melalui BUM Desa. Sebab, dari proses belajar yang awalnya terasa "mumet", lahirlah pemahaman baru yang akan menjadi bekal dalam mendampingi BUM Desa menuju tata kelola usaha yang lebih baik. (ANK)

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Keren...kalau boleh tahu, kegiatan ini inisiatip siapa?
    PLD/PD karena kebutuhan;
    TA karena kewajiban utk meningkatkan kapasitas Menteenya?
    Kok daerah saya tidak ada program kayak gini

    BalasHapus
  2. dari tim TAPM Kabupaten. Pelaksanaan secara swadaya peserta.

    BalasHapus