P3MD Gunungkidul - Stunting masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Upaya menurunkan angka stunting tidak cukup hanya mengandalkan intervensi sektor kesehatan semata, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas sektor termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga tingkat pemerintahan paling bawah yaitu Kalurahan. Di sinilah kalurahan memiliki posisi strategis sebagai ujung tombak yang mengenal secara langsung kondisi warganya, sementara Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hadir sebagai pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas nasional.
Kolaborasi tersebut bukan sekadar pembagian tugas administratif. Lebih dari itu, kerja sama ini menjadi fondasi penting dalam memastikan setiap anak, ibu hamil, ibu menyusui, hingga kelompok rentan benar-benar memperoleh asupan gizi yang berkualitas secara berkelanjutan.
Sayangnya, kedua kekuatan ini sering kali berjalan pada jalurnya masing-masing. Padahal, apabila disinergikan sejak tahap perencanaan pembangunan kalurahan, efektivitas intervensi penurunan stunting akan jauh lebih optimal.
Momentum yang paling tepat untuk membangun kolaborasi tersebut adalah Rembuk Stunting Kalurahan. Selama ini, rembuk stunting menjadi forum musyawarah yang mempertemukan pemerintah kalurahan, tenaga kesehatan, kader, pendamping desa, serta berbagai unsur masyarakat untuk menyusun komitmen dan rencana aksi percepatan penurunan stunting. Forum ini seharusnya tidak hanya menjadi ruang evaluasi dan penyusunan program, tetapi juga menjadi wadah mempertemukan seluruh pemangku kepentingan yang memiliki peran dalam pemenuhan gizi masyarakat.
Karena itu, sudah saatnya Dapur SPPG di wilayah setempat turut diundang sebagai peserta aktif dalam rembuk stunting. Kehadiran pengelola SPPG akan membuka ruang koordinasi yang lebih konkret mengenai kelompok sasaran yang membutuhkan intervensi gizi melalui Program Makan Bergizi Gratis.
Kalurahan memiliki modal yang sangat penting, yakni data. Melalui berbagai instrumennya, pemerintah kalurahan mengetahui secara rinci siapa saja balita yang mengalami stunting atau berisiko stunting, ibu hamil dengan risiko kekurangan energi kronis, maupun ibu menyusui yang memerlukan dukungan pemenuhan gizi. Data tersebut merupakan informasi yang sangat berharga dalam menentukan sasaran Program MBG agar benar-benar menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.
Di sisi lain, Dapur SPPG membutuhkan data sasaran yang akurat agar penyaluran makanan bergizi berlangsung tepat sasaran. Tanpa koordinasi yang baik, tidak menutup kemungkinan terdapat keluarga yang seharusnya menjadi prioritas justru belum terlayani, sementara penerima lain yang tingkat kebutuhannya lebih rendah telah memperoleh manfaat program.
Melalui rembuk stunting, kedua belah pihak dapat menyamakan persepsi mengenai jumlah sasaran, lokasi penerima manfaat, mekanisme distribusi, hingga proses pemutakhiran data secara berkala. Dengan demikian, Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya menjadi program distribusi makanan, tetapi benar-benar menjadi bagian dari strategi percepatan penurunan stunting di tingkat kalurahan.
Kolaborasi ini juga memberikan keuntungan lain bagi pemerintah kalurahan. Hasil pelaksanaan MBG dapat menjadi salah satu bahan evaluasi dalam pelaksanaan konvergensi stunting. Pemerintah kalurahan bersama kader dapat memantau perkembangan status gizi penerima manfaat, sehingga intervensi yang dilakukan dapat diukur dampaknya secara lebih nyata. Apabila masih ditemukan balita atau ibu hamil yang memerlukan pendampingan tambahan, kalurahan dapat mengintegrasikan berbagai program lain seperti edukasi pola asuh, sanitasi, ketahanan pangan keluarga, maupun pemanfaatan Dana Desa sesuai kewenangannya.
Bagi Dapur SPPG, kemitraan dengan pemerintah kalurahan juga akan meningkatkan efektivitas operasional. Dukungan pemerintah kalurahan mempermudah validasi data penerima manfaat, memperkuat koordinasi dengan kader Posyandu, kader KPM, dan Tim Pendamping Keluarga, sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menyukseskan Program MBG.
Ke depan, pola kerja kolaboratif ini perlu menjadi praktik bersama di setiap kalurahan. Rembuk stunting tidak lagi sekadar forum tahunan yang menghasilkan daftar kegiatan, melainkan menjadi ruang koordinasi lintas sektor yang mampu menyatukan data, program, dan sumber daya untuk satu tujuan yang sama, yaitu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting.
Percepatan penurunan stunting bukan hanya soal menambah anggaran atau memperbanyak program. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap program saling terhubung, saling menguatkan, dan tepat menyasar mereka yang membutuhkan. Ketika data yang dimiliki kalurahan bertemu dengan kapasitas layanan Dapur SPPG melalui Program Makan Bergizi Gratis, maka kolaborasi tersebut menjadi fondasi kuat untuk membangun masa depan anak-anak Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas. (ANK)

0 Komentar