Kegiatan yang berlangsung di Rumah Makan Soto Mager,
Kalurahan Ngoro-oro, Kapanewon Patuk ini menghadirkan Korprov DIY,
Murthodo, S.H., M.Pd., yang memberikan arahan mengenai pentingnya peran
pendamping dalam mendorong BUMDesa menjadi lembaga usaha desa yang profesional,
sehat, dan berkelanjutan.
Dalam arahannya, Murthodo menegaskan bahwa kualitas
pendampingan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kinerja
BUMDesa di tingkat desa.
BUMDesa membutuhkan tata kelola yang baik agar mampu berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, pendamping harus memiliki pemahaman yang kuat terkait pengelolaan keuangan dan sistem pertanggungjawaban usaha desa, ujarnya.
Sebagai narasumber dan fasilitator, TAPM Kabupaten
Gunungkidul Aris Nurkholis menyampaikan berbagai materi strategis yang dirancang untuk
meningkatkan kemampuan teknis peserta dalam mendampingi pengelolaan usaha
BUMDesa.
Kegiatan diawali dengan pre-test untuk memetakan
tingkat pemahaman awal peserta. Selanjutnya, peserta memperoleh materi mengenai
kebijakan pelaporan dan pengelolaan keuangan BUMDesa, konsep dasar
akuntansi, hingga pengenalan Aplikasi Keuangan BUMDesa yang dikembangkan
oleh PKN STAN sebagai sarana pencatatan transaksi dan penyusunan laporan
keuangan secara lebih sistematis.
Tidak hanya menerima teori, peserta juga terlibat langsung
dalam sesi praktik akuntansi berbasis studi kasus yang dipandu oleh Aris Nurkholis dibantu oleh Dewi Purnawati (PLD Playen). Berbagai model usaha BUMDesa
dijadikan bahan simulasi, mulai dari usaha jasa, perdagangan, simpan pinjam,
hingga unit usaha ketahanan pangan.
Melalui praktik tersebut, peserta dilatih melakukan pencatatan transaksi, penyusunan jurnal, pembuatan buku besar, hingga penyusunan laporan keuangan sederhana sesuai karakteristik masing-masing unit usaha.
Salah satu materi yang mendapat perhatian khusus adalah akuntansi
usaha ketahanan pangan BUMDesa, mengingat sektor ini menjadi fokus
pengembangan ekonomi desa dalam beberapa tahun terakhir. Peserta diberikan
pemahaman mengenai tata kelola administrasi dan penyusunan laporan keuangan
usaha ketahanan pangan agar lebih tertib dan akuntabel.
Suasana pelatihan berlangsung dinamis dengan kombinasi
metode paparan materi, diskusi interaktif, studi kasus, dan praktik langsung.
Berbagai persoalan yang sering dihadapi pendamping di lapangan turut dibahas
bersama untuk menemukan solusi yang aplikatif dan sesuai kondisi masing-masing
desa.
Sebagai bagian dari evaluasi, kegiatan ditutup dengan post-test
guna mengukur peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian
pelatihan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kapasitas peserta
dalam memahami prinsip-prinsip pengelolaan keuangan dan pertanggungjawaban
BUMDesa.
Melalui kegiatan ini, PD dan PLD diharapkan semakin siap mendampingi BUMDesa dalam membangun sistem keuangan yang tertib, transparan, dan profesional. Penguatan kapasitas tersebut menjadi langkah penting untuk mendukung keberlanjutan usaha desa sekaligus memperkuat peran BUMDesa sebagai motor penggerak ekonomi dan ketahanan pangan di tingkat desa (HSGK2026)

0 Komentar