P3MD Gunungkidul - Salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi banyak Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) bukanlah bagaimana memproduksi barang, melainkan bagaimana menjualnya. Tidak sedikit BUMKal yang mampu menghasilkan produk berkualitas, namun mengalami kendala ketika produk tersebut harus masuk ke pasar dan bertemu dengan konsumen. Akibatnya, produksi yang melimpah justru menjadi persoalan baru karena tidak diimbangi dengan kemampuan pemasaran yang memadai.
Kondisi ini sesungguhnya tidak hanya terjadi di Gunungkidul, tetapi juga menjadi fenomena umum di berbagai daerah. Banyak BUMKal berhasil mengembangkan usaha pertanian, peternakan, perdagangan, hingga pengolahan hasil pangan. Namun ketika produk siap dipasarkan, jaringan pemasaran yang terbatas sering kali menjadi penghambat berkembangnya usaha.
Di tengah tantangan tersebut, sesungguhnya terdapat modal sosial yang sangat besar dan sering kali belum dimanfaatkan secara optimal, yakni jejaring Pendamping Desa dan BUMKal yang tersebar di seluruh wilayah. Jika jejaring ini mampu diorkestrasi dengan baik, maka dapat menjadi kekuatan besar untuk memperkuat mata rantai pasok sekaligus memperluas akses pasar produk-produk BUMKal.
Salah satu contoh menarik terjadi beberapa waktu lalu ketika Pendamping Desa Kapanewon Ponjong, Tika Susanti, membuka diskusi di Grup WhatsApp besar Tenaga Pendamping Profesional (TPP) DIY. Dalam pesannya, Tika menuliskan:
"Bapak ibu, info penjualan telur bebek yang menerima partai besar, di mana ya? Barangkali ada yang tahu. Terima kasih. Produksi bebek BUMDes melimpah, kesulitan di penjualan."
Pesan sederhana tersebut sesungguhnya menggambarkan persoalan klasik yang banyak dihadapi BUMKal. Produksi tersedia, kualitas produk ada, bahkan jumlahnya melimpah. Namun informasi mengenai calon pembeli, distributor, pengepul, rumah makan, hotel, atau pelaku usaha yang membutuhkan produk tersebut belum terhubung secara efektif.
Menariknya, tidak lama setelah pesan tersebut disampaikan, berbagai tanggapan mulai bermunculan dari pendamping desa di wilayah lain. Ada yang memberikan informasi jaringan pengepul, ada yang menghubungkan dengan pelaku usaha kuliner, bahkan ada yang menawarkan kemungkinan kerja sama antarwilayah. Dari sini terlihat bahwa solusi sering kali sebenarnya ada di sekitar kita, hanya belum saling terhubung.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa grup WhatsApp Pendamping Desa maupun grup komunikasi BUMKal bukan sekadar sarana bertukar informasi administrasi, jadwal kegiatan, atau laporan pendampingan. Lebih dari itu, grup tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi ekonomi yang mampu mempertemukan produsen dan pasar dalam waktu yang relatif cepat.
Bayangkan apabila setiap BUMKal secara rutin membagikan informasi mengenai produk yang dimiliki, kapasitas produksi, kebutuhan bahan baku, hingga peluang kerja sama yang sedang dicari. Di sisi lain, para pendamping desa yang memiliki akses luas terhadap berbagai wilayah dapat berperan sebagai penghubung jaringan pemasaran dan rantai pasok antar-BUMKal maupun dengan pihak eksternal.
Sebagai contoh, BUMKal yang memiliki usaha peternakan dapat memasok kebutuhan bahan baku bagi BUMKal yang bergerak di sektor kuliner. BUMKal yang memiliki produk pertanian dapat dipasarkan melalui jaringan toko desa atau gerai milik BUMKal lain. Bahkan kerja sama lintas kapanewon dan lintas kabupaten bukan sesuatu yang mustahil apabila informasi tersedia dan mudah diakses oleh seluruh anggota jejaring.
Ke depan, perlu dibangun budaya berbagi informasi ekonomi di dalam grup komunikasi BUMKal dan Pendamping Desa. Tidak hanya berbagi persoalan, tetapi juga berbagi peluang. Setiap informasi mengenai kebutuhan pasar, calon mitra usaha, distributor, pameran produk, hingga permintaan produk dalam jumlah besar dapat menjadi pintu masuk bagi berkembangnya usaha BUMKal.
Namun lebih dari sekadar berbagi informasi, momentum ini seharusnya menjadi titik awal untuk membangun ekosistem ekonomi BUMKal yang lebih rapi, sistemik, dan terstruktur. Selama ini, tidak sedikit BUMKal maupun pendamping desa yang masih bekerja dan bergerak sendiri-sendiri. Padahal tantangan yang dihadapi pelaku usaha desa saat ini semakin kompleks, mulai dari persaingan pasar, keterbatasan akses modal, perubahan perilaku konsumen, hingga dominasi pelaku usaha besar yang memiliki jaringan pemasaran dan distribusi yang jauh lebih kuat.
Sudah bukan saatnya lagi BUMKal berjalan sendiri-sendiri. Demikian pula pendamping desa tidak cukup hanya mendampingi wilayahnya masing-masing tanpa membangun kolaborasi yang lebih luas. Yang dibutuhkan saat ini adalah membangun kekuatan kolektif melalui jejaring ekonomi desa yang saling terhubung dan saling menguatkan.
Melalui jejaring tersebut, BUMKal dapat berbagi informasi pasar, saling memasok kebutuhan bahan baku, bertukar pengalaman pengelolaan usaha, saling mempromosikan produk unggulan, hingga membuka akses kemitraan yang lebih luas. Sementara itu, pendamping desa dapat mengambil peran strategis sebagai katalisator yang menghubungkan berbagai potensi ekonomi desa sehingga tercipta rantai pasok yang lebih efisien dan pasar yang lebih luas bagi produk-produk BUMKal.
Apabila setiap BUMKal dan pendamping desa memiliki komitmen untuk saling membantu memasarkan produk, sesungguhnya kita sedang membangun jaringan pemasaran kolektif yang sangat besar. Bayangkan apabila 144 BUMKal di Gunungkidul saling mengenal produk satu sama lain, saling bertukar informasi pasar, dan saling membuka akses kemitraan. Kekuatan ekonomi yang tercipta tentu akan jauh lebih besar dibandingkan jika masing-masing BUMKal berjuang sendiri-sendiri.
Jika kita tidak bergandengan tangan, akan sangat berat bagi usaha-usaha BUMKal untuk berkembang dan bersaing dengan pelaku bisnis yang memiliki modal besar serta jaringan usaha yang telah mapan. Sebaliknya, apabila seluruh elemen mampu membangun kolaborasi yang kuat, maka keterbatasan yang dimiliki masing-masing BUMKal dapat ditutupi oleh kekuatan jaringan yang dimiliki bersama.
Karena itu, grup WhatsApp BUMKal maupun grup komunikasi Pendamping Desa hendaknya tidak hanya menjadi ruang berbagi informasi kegiatan dan administrasi, tetapi juga berkembang menjadi ruang kolaborasi ekonomi desa. Dari ruang-ruang komunikasi sederhana tersebut dapat lahir berbagai kerja sama usaha, kemitraan pemasaran, pertukaran informasi pasar, hingga terbentuknya ekosistem ekonomi desa yang mampu memperkuat daya saing BUMKal secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan BUMKal tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi barang atau jasa, tetapi juga kemampuan membangun jejaring dan kolaborasi. Semakin kuat jaringan yang dimiliki, semakin besar peluang produk desa menembus pasar yang lebih luas.
Apa yang dilakukan Tika Susanti melalui sebuah pesan singkat di grup WhatsApp mungkin terlihat sederhana. Namun dari situlah kita belajar bahwa kolaborasi sering kali dimulai dari keberanian untuk bertanya dan kemauan untuk saling membantu. Sebuah pertanyaan tentang pemasaran telur bebek sesungguhnya menyimpan pesan yang lebih besar: desa tidak akan maju jika berjalan sendiri-sendiri.
Sudah saatnya Pendamping Desa dan BUMKal membangun gerakan bersama untuk saling menguatkan mata rantai pasok, memperluas jaringan pemasaran, dan menciptakan ekosistem ekonomi desa yang saling terkoneksi. Dari kolaborasi yang sederhana hari ini, bukan tidak mungkin akan lahir jaringan ekonomi desa yang tangguh, mandiri, dan mampu menjadi kekuatan baru dalam pembangunan ekonomi lokal di masa depan. (ANK)

0 Komentar